Disamping itu, kelemahan yang muncul seiring dengan kelebihan sifat informasinya yang realtime, adalah rendahnya proses verifikasi. Hal ini dimanfaatkan, oleh parapihak untuk membuat narasi yang bombastis, menggugah ketertarikan melalui judul headline.
Lantas tombol like and share bekerja, tanpa membaca utuh informasi yang disampaikan, terlebih tidak mencoba menganalisa hadirnya informasi tersebut. Sekalilagi, budaya instant modern, membuat kita seolah menjadi objek pasif, tanpa kemampuan mengolah informasi yang datang.
Baik individu maupun kelompok memiliki kepentingan tersendiri dalam social media, pencitraan dan pembentukan opini adalah hal yang agaknya dominan. Dan kemudahan memproduksi sekaligus mendistribusikan informasi menjadi pisau bermata dua. Tanpa nalar sehat, berita negatif dan palsu, bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Maka semboyan, kebohongan yang dipaparkan secara berulang akan menjadi tampak sebagai sebuah kebenaran yang nyata, kemudian terbukti!. Dunia digital menghadirkan realitas social yang berbeda. Persepsi dibangun dan dibentuk sesuai kepentingan yang bermain, dan kebenaran menjadi tersebar dalam batas ruang maya yang samar tidak terverifikasi.
Dipenghujung akhir, nalar dan akal sehat harus menjadi counter atas perkembangan hoaks, dibarengi dengan peningkatan kemampuan literasi informasi. Memilih dan memilah yang benar dari yang palsu, dengan mengedepankan konfirmasi data dan fakta!.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H