Sebelum kita melangkah lebih jauh, izinkan saya untuk sedikit menjelaskan, sekaligus memberikan batasan, bahwa tulisan ini merupakan hasil refleksi pengalaman pribadi. Jadi, tidak untuk digeneralisasi secara luas, karena setiap orang pasti punya pengalaman dan sudut pandang masing-masing, untuk jenis masalah yang sama.
Bicara soal sikap "bodo amat" alias cuek, sebagian orang tentu menganggap sikap satu ini sangat menjengkelkan. Tak ada kepedulian atau inisiatif, apalagi memikirkan orang lain. Terlihat individualis kan?
Ya, ini memang satu sisi dari sikap "bodo amat". Tak ada satu pun hal positif, yang sesuai dengan nilai-nilai budaya ketimuran, seperti yang lazim ditemui di negara kita.
Tapi, ibarat dua sisi matauang, meski di satu sisi terlihat menjengkelkan, sikap "bodo amat" sebenarnya menjadi satu elemen penting, untuk memastikan seseorang bisa tetap fokus pada hal-hal penting, khususnya dalam lingkungan yang serba gaduh, penuh intrik, atau penuh "drama".
Memang, kegaduhan, intrik, atau drama adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masa kini, khususnya di perkotaan. Entah di keluarga, masyarakat, atau tempat kerja, ketiga hal ini selalu ada.
Tapi, secara pribadi, sebagai individu dengan kondisi tubuh serba terbatas, saya merasakan, drama, kegaduhan, dan intrik yang ada di sekitar saya terlalu melelahkan untuk diikuti secara langsung, sekalipun saya bisa saja terlibat, khususnya pada masalah yang memang saya ketahui. Jujur saja, tubuh saya terlalu rapuh untuk mengikutinya.
Alhasil, saya lebih memilih untuk bersikap "bodo amat", meski kadang tetap melihat langsung semua "dinamika" ini. Dalam situasi ini, saya hanya bisa menonton, seperti menonton pertandingan sepak bola atau acara komedi. Semua momen yang kita lihat akan terlupakan, segera setelah tontonan itu berakhir.
Sebagai orang yang hidup sendiri dan bekerja di ibukota, saya banyak belajar, pada takaran tertentu, sikap "bodo amat" sungguh membebaskan. Tak ada drama, intrik atau kegaduhan. Semua serba fokus, dan mengalir alamiah. Inilah yang membuat saya (sejauh ini) bisa menikmati hidup di ibukota.
Menariknya, sisi positif dari sikap "bodo amat" seolah merepresentasikan sebuah "quote" dari Confucius, tentang bagaimana sebenarnya kehidupan itu, dan bagaimana (sebagian) manusia menyikapinya:
"Hidup itu (sebenarnya) simpel, tapi kadang (sebagian) orang justru menghadapinya dengan cara rumit (dalam kerumitan yang dibuatnya sendiri)."
Quote ini, kadang membuat saya teringat pada anekdot berikut:
"Kalau ada yang sulit, kenapa harus dibuat mudah?"
Tentunya, ini adalah sebuah kritik satir, atas sebuah kerumitan yang tercipta, dari sebuah hal yang sebenarnya sangat sederhana. Ironisnya, ini justru menjadi "pegangan hidup" sebagian orang, hanya demi terlihat "cerdas" atau "keren". Padahal, tanpa harus membuatnya jadi rumit, satu-dua masalah bisa segera teratasi.
Meski kadang terlihat menjengkelkan, sikap "bodo amat" ternyata tetap punya sisi positif yang sangat berguna. Dengan catatan, ia tidak berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan itu tak baik.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI