Mohon tunggu...
Yosef MLHello
Yosef MLHello Mohon Tunggu... Dosen - Bapak Keluarga yang setia. Tinggal di Atambua, perbatasan RI-RDTL

Menulis adalah upaya untuk meninggalkan jejak. Tanpa menulis kita kehilangan jejak

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Real Food, Gaya Hidup Sehat, dan Hari Pangan Sedunia 2024

16 Oktober 2024   21:57 Diperbarui: 16 Oktober 2024   22:03 104
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Real Food, Gaya Hidup Sehat, dan Hari Pangan Sedunia 2024

1.   Real Food

Bagi mereka yang hidup di kampung, istilah real food merupakan sesuatu yang baru. Namun sesungguhnya mereka sudah mulai mengonsumsi makanan-makanan yang tergolong real food itu.  

Mereka sudah biasa mengonsumsinya sejak kecil. Karena memang yang ada di sekitar mereka tinggal hanyalah real food. Bila real food didefinisikan dengan "makanan asli yang berasal dari alam, baik nabati maupun hewani, dan tidak atau sedikit diproses." Makanan real food biasanya segar, organik, dan bebas dari tambahan bahan kimia, pemanis buatan dan pengawet.

Mengacu pada definisi real food di atas, maka hampir sebagian besar makanan yang mereka konsumsi sejak kecil hingga sekarang adalah makanan asli, bukan junk food atau fast food.

Real food itu dapat dimakan secara langsung atau dimasak dengan kematangan yang pas. Contohnya: daging sapi, daging ayam, ikan, telur, susu, kacang-kacangan, sayur mayur, buah-buahan, dan biji-bijian.

Bagi kami dan mereka yang tinggal di kampung atau kota-kota kecil seperti di Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua mengkonsumsi real food itu sudah biasa. 

Hal ini tentu berbeda dengan saudara-saudara yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Bogor,Tangerang, Bandung, dan Surabaya yang selalu berjumpa dengan junk food dan fast food.

Sementara mereka atau kami yang tinggal di kampung, hanya butuh waktu tidak lama untuk mendapatkan ikan segar yang belum diolah bahkan belum kena air es; telur ayam kampung yang langsung diambil dari sangkar. Demikian sayur-sayuran yang segar yang langsung dipetik di kebun di pekarangan rumah, tanpa pengawet dan pemanis buatan dan lain-lain.

Maka tentu saja pilihan untuk menyajikan real food jadi makanan utama di rumah untuk keluarga hendaknya diperbiasakan. 

Untuk itu ajakan Kompasiana kepada para Kompasianer untuk mengonsumsi real food bagi kami merupakan ajakan untuk back to nature. Karena makanan-makanan real food umumnya adalah makanan alamiah. 

Namun tidak berarti bahwa kita tidak boleh berhati-hati dan berwasangka, karena saat ini pengaruh penggunaan pestisida dan pupuk kimia telah menyebabkan banyak sayur-sayuran, daging, dan buah-buahan telah terkontaminasi sehingga tidak alamiah banget lagi. 

2.   Gaya Hidup Sehat

Bila real food menjadi pilihan utama untuk gaya hidup sehat dan kekinian, maka tidak ada pilihan lain bagi kita untuk melaksanakannya. Sebab, gaya hidup sehat pada dasarnya adalah pola hidup yang baik dan seimbang untuk menjaga agar kita tetap sehat fisik, mental, dan sosial.

Dengan menerapkan gaya hidup sehat dapat membantu kita untuk mencegah berbagai penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi, kanker, dan penyakit jantung.

Bagaimana kita dapat menerapkan gaya hidup sehat sementara kita tidak pernah mengonsumsi real food, tetapi semua yang kita konsumsi itu fast food dan junk food.

Pada hal salah satu faktor yang penting untuk menerapkan gaya hidup sehat adalah membiasakan diri mengonsumsi makanan-makanan bergizi seimbang, seperti  buah dan sayur. 

Nah, tentu saja sayur dan buah yang bergizi seimbang itu terdapat dalam real food, bukan pada buah dan sayuran yang telah diawetkan dan disimpan dalam waktu yang lama di dalam freezer atau kulkas.

Tuntutan untuk gaya hidup sehat itu selain konsumsi makanan bergizi seimbang, juga perlu berolahraga secara teratur; tidur yang cukup dan teratur; selalu minum air putih  minimal 2 liter sehari; menghindari kebiasaan buruk seperti merokok dan minum alkohol; menjaga kebersihan lingkungan; menjaga agar tidak stres dan selalu berpikir positif (possitive thinking); dan rutin melakukan cek kesehatan secara teratur.

3.   Hari Pangan Sedunia 2024

Hari Pangan Sedunia (World Food Day) diperingati setiap tahun pada tanggal 16 Oktober. Merupakan suatu momen untuk menyadarkan manusia di seluruh dunia bahwa makanan merupakan hak seluruh umat manusia, dan bukan hanya sebagian saja. 

Berdasarkan data dari National Today, peringatan Hari Pangan sedunia untuk pertama kalinya oleh PBB pada tahun 1979, ketika merayakan Ulang Tahun FAO (Food and Agriculture Organization) ke-20 yang melibatkan lebih dari 150 negara di dunia.

Pada peringatan hari pangan sedunia tahun 2024, tema yang diusung adalah "Water is Life, Water is Food. Leave No One Behind" atau dalam bahasa Indonesia, "Air adalah Kehidupan, Air adalah Makanan. Jangan Tinggalkan Satu pun."

Tujuan dari peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) adalah untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat International tentang pentingnya penanganan masalah pangan baik pada level global,maupun nasional dan regional, sekaligus juga untuk memberantas kelaparan di seluruh dunia.

Untuk itu peringatan HPS mengajak kita untuk menghargai setiap makanan yang dianugerahkan kepada kita sekaligus untuk turut berpartisipasi meringankan saudara-saudara kita yang kurang beruntung nasibnya atau paling kurang tidak membuang makanan sembarangan. Itulah pesan Hari Pangan Sedunia.

4.   Kesimpulan

Antara real food, gaya hidup sehat, dan Hari Pangan Sedunia 2024 memiliki kesamaan baik visi maupun tujuannya, yaitu mengajak manusia masa kini untuk back to nature, dengan mulai mengonsumsi real food demi gaya hidup sehat sebagaimana yang diamanatkan pada peringatan Hari Pangan Sedunia 2024.

Peringatan HPS bertujuan untuk berpartisipasi meringankan penderitaan sama saudara kita yang kelaparan dengan tidak membuang makanan sembarangan. 

Seperti yang dikecam Paus Fransiskus terhadap kebiasaan warga negara-negara Barat - termasuk keluarga kita- yang kerap menyisakan makanan mereka. Paus Fransiskus menyamakan kebiasaan itu seperti mencuri makanan dari orang miskin. Mampukah kita melakukan ketiga hal ini demi hidup yang lebih baik dan sehat?

Atambua: 16.10.2024

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun