Di suatu pagi, seorang istri nampak cekatan dalam mempersiapkan hal-hal kecil milik suaminya, sebelum kemudian mengantarnya ke pintu depan untuk bekerja. Wajah tanpa make-up nya terlihat cantik dan tegas meskipun tak bisa menutupi kesedihan yang dialaminya.
Tak berapa lama ia kemudian bergegas kembali untuk mencari tahu arti tangisan anaknya yang didengarnya sesaat lalu. Hingga kemudian ia lanjutkan membereskan seisi rumah dengan sangat rapi ketika sang anak tertidur pulas.
Ialah Kim Ji-Young (Jung Yoo-Mi), seorang wanita usia 30 tahun-an yang menjadi istri dari Jung Dae Hyeon (Gong Yoo).Â
Ji Young memang berhasil menjadi seorang istri yang cekatan. Ia juga berhasil menjadi seorang ibu yang memberikan semua waktunya untuk mengurus sang anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Namun sejatinya, itu semua bukanlah hal yang diinginkannya pada awalnya.
Ji-Young sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan agensi. Namun kemudian memutuskan berhenti berkarier untuk mengurus keluarganya secara total.
Meskipun nampak bahagia pada awalnya karena bisa melihat tumbuh kembang sang anak, Ji-Young nyatanya mulai depresi akan peran barunya tersebut. Ji-Young tertekan secara mental meskipun sakit itu kemudian tidak disadarinya.
Di tengah usahanya untuk sembuh dan bangkit dari keterpurukan, Ji-Young terus mendapat support dari sang suami. Sembari ia mencari makna kebahagiaan dalam hidupnya dan mencoba memahami perannya sebagai seorang anak, istri dan ibu di waktu bersamaan. Menjadi seorang wanita utuh yang tak hanya membahagiakan keluarganya, namun juga mampu membahagiakan dirinya sendiri.
![Sumber gambar: Kenh14.vn](https://assets.kompasiana.com/items/album/2019/11/21/images-2019-11-21t115837-717-5dd61b8a097f36019b5ea562.jpeg?t=o&v=770)
Film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Cho Nam-ju yang dirilis di tahun 2016 silam, lantas menuai sukses yang sama layaknya bukunya yang dibaca jutaan orang. Sebanyak 3 juta orang tercatat telah menyaksikan film ini selama penayangannya di Korea Selatan.
Namun tak melulu soal prestasi, Kim Ji-Young sendiri berangkat dari novel yang mengundang kontroversi terkait isu feminisme yang dibawanya, di mana hal tersebut merupakan hal yang tabu di Korea Selatan. Pun dengan filmnya yang kemunculannya juga mendapat kecaman dari berbagai sisi.
Namun sejatinya, menyaksikan Kim Ji-Young layaknya membuka surat cinta untuk tiap wanita di dunia yang mungkin mengalami hal yang sama dengannya. Lantas semenarik apakah filmnya? Berikut akan penulis uraikan poin demi poin pembahasan mengenai film ini.
Penampilan Memukau para Aktornya
Tiap aktor dan aktrisnya, khususnya Jung Yoo Mi dan Gong Yoo, mampu memberikan tiap adegan menjadi begitu hidup. Begitu natural sehingga membuat kita percaya bahwa kejadian yang terpampang di layar bioskop adalah nyata adanya.
Mereka sukses menjadi pasangan suami istri yang tak hanya mencoba membahagiakan satu sama lain, namun juga menyimpan banyak pertanyaan terkait apa yang seharusnya mereka lakukan demi pasangan mereka.Â
Mereka berdua seakan mampu menafsirkan segala kegundahan hati yang dialami Ji-Young dan Dae Hyeon menjadi sebuah aliran emosi yang lantas bisa dirasakan juga oleh kita.
Yang menarik dari film ini juga bagaimana melalui sinematografi dan pemilihan tone dengan warna cenderung muram, mampu memberikan visualisasi yang kuat terkait kondisi hati yang tidak mengenakkan.Â
Scoring yang tak berlebihan pun juga membuat kita nyaman mengikuti adegan demi adegan yang memang menuntut kita untuk fokus pada tiap karakter yang ada di film ini.
Singkatnya, tak ada yang perlu diragukan dari sisi teknis film ini. Karena mampu memberikan kita cinematic experience yang cukup memuaskan.
Sebuah Gambaran Nyata Tentang Diskriminasi Wanita di Korea
Tulisan pada laman Tirto.id yang memuat judul Kim Ji Young, Born 1982 dan Reaksi Publik Korea Soal Isu Gender, disebutkan bahwa film ini memang menangkap banyak kejadian nyata yang terjadi di Korea seputar diskriminasi kaum perempuan.
Perusahaan yang memanipulasi skor ujian masuk pekerja wanita sehingga lebih banyak laki-laki yang lolos tes, menjadi salah satu topik yang dibahas dalam film ini meskipun dengan polesan dramatisasi yang sedikit berbeda. Begitu juga dengan geger kamera mata-mata yang tersebar di toilet umum khusus wanita, menjadi salah satu kasus memalukan yang juga diangkat dalam film ini.
![Sumber gambar: Soompi.net](https://assets.kompasiana.com/items/album/2019/11/21/images-2019-11-21t120028-382-5dd62308d541df572b38d842.jpeg?t=o&v=770)
Dan Kim Ji-Young, Born 1982 cukup berhasil memasukkan isu-isu sensitif tersebut menjadi rangkaian cerita yang saling berkesinambungan.
Sulitnya Menjadi Anak, Istri, Ibu dan Wanita Seutuhnya
Kim Ji-Young setidaknya berhasil memberikan tamparan kerasnya pertama kali lewat gambaran realita pernikahan. Setiap opsi yang diambil seorang wanita memang selalu menghasilkan konsekuensi entah itu baik ataupun buruk. Baik kala ia memutuskan untuk di rumah mengurus keluarga secara penuh atau tetap melanjutkan kariernya.
Hanya saja, lagi-lagi pilihan tersebut haruslah dipikirkan secara matang dan melibatkan komunikasi dengan suami. Agar kelak, tiap keputusan tak menjadi beban yang terus dipendam bahkan berujung pada depresi dan sakit mental yang membahayakan.
![Sumber gambar: Hancinema.net](https://assets.kompasiana.com/items/album/2019/11/21/images-2019-11-21t120605-757-5dd622c4274a7a1ee93cf6f2.jpeg?t=o&v=770)
Keluarga jelas harus hadir dan tak boleh abai dalam menyikapi hal seperti ini agar kelak tak ada lagi yang terbebani oleh hal-hal yang sejatinya tak pernah diinginkan.
Kondisi patriarki memang turut mengambil peranan dalam keseluruhan konflik yang dihasilkan. Hanya saja, isu utama mengenai pilihan hidup, komunikasi dengan pasangan dan postpartum depression awareness muncul lebih mendominasi film ini.
Sehingga menyadarkan kita bahwa sejatinya mental illness tak harus selalu datang dari kondisi yang serba gelap seperti yang dialami Joker misalnya. Karena Ji-Young mengalami hal itu dari suasana rumah yang sejatinya masih cukup hangat.
Namun tekanan sosial dan tradisi patriarki yang kaku dalam lingkup keluargalah yang juga membuatnya down secara mental. Hingga kemudian hal tersebut turut mempengaruhi ruang kebebasan Ji-Young untuk berekspresi dan bertindak secara nyaman.
Ji-Young seakan memberikan kita gambaran bahwa wanita adalah sebuah anugerah bagi seorang pria yang mendampinginya. Namun juga menyadarkan kita bahwa menjadi wanita sejatinya memerlukan banyak pengorbanan.
Karena biar bagaimanapun mereka tetap dituntut untuk bisa menjadi anak, istri dan ibu di saat bersamaan, dan di sisi lain juga harus mengejar mimpi, hak dan cita-citanya walau realita kadang memberikan mereka jalan terjal yang sulit untuk dilalui.
![Sumber gambar: Soompi.com](https://assets.kompasiana.com/items/album/2019/11/21/images-2019-11-21t120517-528-5dd61b4b274a7a7a9e21c0f2.jpeg?t=o&v=770)
Benar bahwa wanita harus menghormati laki-laki. Namun bukan berarti sebagai lelaki lantas bisa 'menutup pintu' impian pasangan begitu saja. Dukungan dan perhatian kita jelas merupakan hal yang bisa membuat setiap wanita merasa percaya diri, bahagia dan merasakan hidup tanpa kekangan.
Penutup
Membuka mata kita sebagai penonton di luar Korea bahwa sejatinya praktik-praktik misoginis masih lumrah terjadi disana dan begitu frontal dilakukan. Bahkan tak dipungkiri hal seperti itu juga kerap terjadi di beberapa belahan negara lain termasuk di beberapa daerah di Indonesia.
Film ini juga cocok untuk disaksikan bagi pasangan menikah. Menjadi semacam pelajaran tentang bagaimana baiknya memproses ragam problematika rumah tangga menjadi keputusan terbaik bagi pasangan suami istri.
Karena memang beberapa keputusan tidak selalu beeakhir menyenangkan bagi semua pihak. Namun setidaknya, kita bisa memberikan porsi yang pas terkait cara penyelesaian masalah yang ada di hadapan, agar kemudian tidak menimbulkan beban yang terlalu berat bagi salah satu pihak.
Jangan sampai kita baru menyadari kesulitan dan beban yang dialami pasangan ketika mereka sudah ada di titik depresi terdalam akibat terkungkung dalam pilihan hidup yang terpaksa dijalani. Hanya karena pengorbanan besar yang terus menerus dibebankan kepadanya tanpa kita sadari, lantas kita harus menyesal di kemudian hari.
Karena kelak hal tersebut mungkin bisa merubahnya menjadi sosok yang berbeda. Tanpa impian, tanpa harapan.
Skor: 7,5/10
I hope this article will give you a new perspective. Because it's fun, fresh and..
![Typed By Yonathan Signature](https://assets.kompasiana.com/items/album/2019/11/21/20191121-115454-0000-5dd618e0d541df61a772ed77.png?t=o&v=770)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI