Mohon tunggu...
Yesi RahmaMustika
Yesi RahmaMustika Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Airlangga

Menulis/Politik/Pemerintahan

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pemilu 2024: Gen Z sebagai Pemilih Mayoritas

20 Juni 2023   00:32 Diperbarui: 20 Juni 2023   15:42 531
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Data sensus penduduk tahun 2020 mencatat jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh Gen Z, generasi yang lahir pada kurun 1996-2012, dengan persentase 75,49 juta jiwa atau 27,49 persen dari 270,2 juta jiwa keseluruhan (Antara News). Hal ini berarti jumlah Gen Z bisa mengisi hampir keseluruhan jumlah penduduk Indonesia karena telah melampaui dari jumlah generasi sebelumnya, yaitu generasi milenial, yang proporsinya hanya 25,87 persen (Kompas.id).  Namun, dominasi ini juga tidak berarti bahwa total persentasenya akan menjadi pemilih di pemilu mendatang. 

Data partisipasi Gen Z sebagai pemilih muda pada pemilu 2024 mendatang juga dirilis oleh Lembaga Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2020, bahwa yang mendominasi kisaran rentang usia 17-39 tahun atau mendekati angka 60% dari total keseluruhan (Antara News). Atau hanya mereka yang lahir antara tahun 1996-2007, yaitu sekitar 47,5 juta yang berhak memilih (Kompas.id). 

Peran Gen Z dan tantangannya sebagai pemilih dalam pemilu 2024

Dalam konteks partisipasi politik pada pemilu 2024, Gen Z memiliki peran yang sangat penting karena melihat dari tingkat persentase sebagai pemilih terbanyak, maka generasi ini memiliki pengaruh unik dan besar pada hasil perolehan suara para calon di tahun 2024 mendatang. 

Seperti yang dipaparkan sebelumnya, dari berbagai karakteristik yang dimiliki Gen Z, banyak tokoh politik besar negara yang berupaya maksimal untuk terus bisa  membangun opini publik guna memengaruhi pandangan Gen Z agar mereka bisa lebih terbuka dan tertarik untuk berpartisipasi pada politik, lebih utamanya sebagai pemilih pada pemilu mendatang. Di sisi lain, bagi calon kandidat, Gen Z bisa menjadi sasaran utama yang mampu memberi kontribusi besar pada perolehan suara dan kemenangan pada pemilu. 

Partisipasi Gen Z dipandang mampu memberikan intensifikasi terhadap akses informasi terbuka dan luas mengenai berbagai isu dengan memanfaatkan kemajuan teknologi (media sosial) sesuai kemahiran mereka. Namun dalam konteks politik, ketertarikan mereka tidak begitu tinggi, karena rendahnya kesadaran dan adanya sikap apatis mereka terhadap isu-isu politik negara. 

Dengan kemajuan teknologi digital yang kesehariannya tidak lepas dengan Gen Z atau mayoritas 8,5 jam per hari waktu mereka dihabiskan dengan berselancar di berbagai media sosial menjadikan ini sebagai salah satu strategi yang bisa dimanfaatkan oleh berbagai tokoh politik besar atau calon kandidat untuk melakukan kampanye online sekaligus memengaruhi pemikiran mereka untuk bertindak sebagai pemilih di pemilu 2024 mendatang. 

Berbagai aplikasi media sosial, seperti Instagram, Tiktok, Facebook digunakan sebagai media sharing berbagai isu. Akses informasi yang disajikan terbuka dan tanpa batas waktu bisa menjadi media untuk para tokoh politik melakukan kampanye online kepada Gen Z. 

Selain itu, dari sisi Gen Z sebagai pemilih, media sosial tersebut bisa digunakan untuk bisa lebih mengenali dan mengidentifikasi, juga melihat track record prestasi calon untuk memilih figur pemimpin yang mampu membawa perubahan dalam masyarakat nantinya, seperti dengan membuka ruang diskusi digital antar kalangan untuk saling sharing opini. Namun, sebelum Gen Z berpartisipasi sebagai pemilih dengan mengidentifikasi riwayat calon, diperlukan adanya kesadaran kolektif bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan pilihan politik atau pemimpin yang tepat tanpa didasari pengaruh propaganda dari tokoh politik atas kepentingan pribadinya.  

Dengan begitu, Gen Z sebagai pemilih mayoritas pada pemilu mendatang akan mampu berpartisipasi dan mencerna informasi dengan baik sehingga turut menciptakan penyelenggaraan pemilu yang sehat sesuai prinsip demokrasi yang benar mampu akan membawa perubahan serta berdampak signifikan pada kesejahteraan masyarakat. Dalam pemilu 2024 nanti, sudah pasti suara Gen Z akan menjadi ladang rebutan para calon kandidat, namun dibalik itu, setidaknya dengan jumlah Gen Z yang banyak, mereka memiliki pemahaman lebih perihal dunia politik agar suara mereka tidak akan dimanfaatkan para calon tanpa mengetahui apa alasan mereka harus berpartisipasi pada pemilu 2024.  

Penulis: Yesi Rahma Mustika dan Ira Suarilah, S.Kp, M.Sc, Ph.D. Universitas Airlangga

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun