Mohon tunggu...
Yeni Handayani
Yeni Handayani Mohon Tunggu... -

mencoba meluapkan inspirasi yang tersimpan tak tersusun dalam pikiran. dan hati ini. :)

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Ayah...

10 Agustus 2010   08:23 Diperbarui: 26 Juni 2015   14:09 48
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Genap dua belas tahun sudah berlalu tanpa hadir mu Ayah. Masih ku ingat, saat kau terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang usang itu. Merintih kesakitan tak berdaya. Memanggil namaku yang sedang asyik bermain boneka. Dalam geram pesakitan mu kau meminta ku membawakan segelas Air. Ah...... maafkan aku Ayah. Aku masih teramat hijau kala itu. Tak paham apa yang kau inginkan. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan kepala dan polos ku . Dalam dahaga yang teramat sangat, kau masih tersenyum manis sembari mengelus kepalaku. Sekuat tenaga kau bangun dari pembaringan mu. Menggigit bibirmu menahan sakit yang kejam menggerogoti tubuh gempalmu selama lima tahu belakangan. Perlahan-lahan kau angkat kedua bahumu. Namun, kembali tersungkur  seiring runtuhnya getar kedua bahu dan tangan mu. Begitu, begitu, dan terus begitu selama beberapa kali. Dalam keputusasaan kau masih tetap berusaha. Kau gapai lemari reyot itu, sebagai penopang tubuh lemah mu. Selangkah  demi selangkah kau ayunkan kedua kaki mu. Kau hampiri meja itu, lalu kau gapai gelas dan mengisinya dengan air . Habis tak bersisa. Haaah........ suara itu keluar dari mulut mu. Mengisyaratkan  betapa kering kerongkongan mu. Ku hampiri dirimu, ku pegang pergelangan tangan mu. Engkau menatap tajam wajahku. Tersenyum. Hingga kau titikkan air matamu. Hangat  menyentuh kulit tanganku. Dalam kebisuan mu, kau mengerti maksudku. Aku memapah mu kembali kembali ke pembaringan. Kau kecup kening ku. Kau belai rambutku. Betapa sayangnya engkau pada ku. Kini dunia kita t'lah berbeda. kau telah di sisi -Nya. ku Doakan kau tenang di haribaannya. semoga kita bisa berkumpul di hari akhir kelak. aku mencintai mu AYAH.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun