Saya punya kebiasaan tidur larut malam. Biasanya mata saya terpejam menjelang jam 12 malam. Sering juga saya baru lelap jam 1 pagi. Buat saya tidur jam 11 malam itu masih terlalu sore. Kebiasaan ini saya jalani sejak saya bekerja di kantor dan masih menjadi kebiasaan walau saya sudah berhenti dari kerja kantoran 3 tahun lalu.
Meski tidur larut malam namun saya selalu bangun pagi. Ketika azan Subuh berkumandang, saya sudah bangun dan bersiap sibuk di dapur. Jadi kalo di total jumlah jam tidur saya sehari itu paling banyak 6 jam. Padahal semestinya kita tidur rata-rata 8 jam sehari.
Sebenarnya saya nggak sibuk juga sih. Yaaa memang kadang pekerjaan memaksa saya buat tidur larut tapi itu jarang sekali. Kebanyakan malah saya hanya nonton tipi sambil menunggu kantuk datang dan si makhluk bernama kantuk ini datangnya dinihari. Sungguh nggak sopan banget emang si kantuk ini.
Kebiasaan tidur larut makin buruk ketika insomnia datang. Iya saya kadang mengalami insomnia atau susah tidur. Dalam sebulan paling tidak, 2 kali saya mengalami insomnia. Insomnia ini sungguh bikin kesal. Di saat orang lain tidur lelap, mata saya malah melek sempurna. Bengong sendiri aja gitu jadinya.

Tidur larut punya banyak akibat buruk.. I know that. Selain menyebabkan lemas, kurang tidur memicu penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Depresi dan gangguan mood juga kerap menghinggapi orang yang kurang tidur. Masih banyak dampak buruk lainnya yang cukup seram kalo saya tulis semua.
Bersyukurnya adalah saat ini saya tidak mengalami hal-hal yang seram itu, kecuali punya sifat mudah marah yang emang jadi habit saya sejak dulu, untuk dampak buruk lainnya belum hinggap ke diri saya. Jangan sampe sih yaaaa semoga. Â Â

Sesungguhnya kegembiraan menyambut Ramadan membuat saya secara mental siap menjalani Ramadan. Bahwa mesti bangun pagi untuk sahur, menahan lapar seharian, menahan hawa nafsu sepanjang hari, sementara aktivitas sehari-hari tidak berkurang, itu memaksa otak membuat rencana.
Yang paling bikin repot kalo puasa itu apa sih? Buat saya yang bikin repot adalah menjaga stamina tetep bugar walau tak makan seharian. Rasa lapar bisa membuat otak mengirim sinyal negatif ke tubuh. Efeknya kita bisa mengalami lemes, lemah dan males. Turunnya stamina juga bisa membuat daya tahan tubuh menurun yang akhirnya gampang terserang penyakit.

Kembali ke masalah tidur, kebiasaan tidur saya berubah saat Ramadan. Mungkin karena otak sudah terstimulasi dengan pikiran positif menjalani ibadah puasa. Saya tidur tak larut lagi. Biasanya saat puasa saya tidur paling lambat jam 10 malam dan udah terjadi tuh di hari pertama puasa kemarin. Tanpa perlu dipaksa, tau-tau udah pules aja gitu jam segitu.
Kemudian saya bangun jam 3 buat sahur bersama keluarga. Kelar sahur, saya biasa jalan cantik di teras rumah buat olahraga ringan. Kemudian beraktivitas seperti biasa. Sampai saat berbuka tiba. Dengan pola tidur begini saya bisa menjaga stamina saya tetap bugar. So saya nggak bermasalah dengan jam tidur saat puasa. Masalah tidur saya justru dimulai lagi setelah Ramadan usai. Kenapa begitu? Entahlah.. saya mau tidur saja.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI