Mohon tunggu...
Y. Airy
Y. Airy Mohon Tunggu... Freelance Writer -

Hanya seseorang yang mencintai kata, Meraciknya.... Facebook ; Yalie Airy Twitter ; @itsmejustairy, Blog : duniafiksiyairy.wordpess.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[RoseRTC] September, Ever

17 September 2016   13:52 Diperbarui: 17 September 2016   14:08 248
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Itu..., nama yang bagus." pujiku. Dia menyunggingkan senyum tipis, senyum yang membuatnya kian tampan.

"Joey!" panggilku, dia tertegun, "do you mind?" tanyaku meminta persetujuanya.

"No!"

* * *

Senja telah bersembunyi dibalik keremangan. Berganti dengan cahaya rembulan yang memantul di atas debur ombak. Kutarik kepalaku dari bahunya.

"Joey, haruskah kau pergi?" tanyaku tak rela. Aku tak berani menatap matanya, aku takut aku tak akan mempu melepaskannya. Mungkin ini gila, aku jatuh cinta pada seseorang yang telah membunuh ayahku sendiri. Yang juga hampir saja membunuhku! Entah kenapa aku tak bisa membencinya meski kucoba. Rasa benci yang kupaksakan yang berakhir dengan api yang membakar jiwaku. Aku menyadari itu. Bahkan, kini aku tak mampu jauh darinya.

Dia memutar tubuhnya hingga menghadapku. Menatap wajahku yang menunduk. Kulihat tangannya menyentuh daguku dan menariknya hingga mata kami bertemu.

"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan di negaraku, lagipula..., aku tak memiliki dokumen resmi. Aku masih ilegal disini,"

"Kau akan melupakan aku?" kataku bergetar,

Dia tak menyawab, dia melepaskan tangannya dari daguku. Merogohkan tangannya ke dalam leher bajunya, ke dadanya. Dan keluar dengan sesuatu, dia menariknya lepas dari lehernya. Membuang tali hitam yang mengikatnya, sebuah cincin yang cantik. Dengan manik berwarna merah muda yang menciptakan kilau oleh pancaran sinar bulan, ia menatap benda di antara ibu jari dan telunjuknya itu.

"Sejak kecil, benda ini sudah tergantung di leherku. Kata suster kepala, mungkin ini ditinggalkan oleh ibuku," katanya lalu tersenyum getir, "entahlah..., aku bahkan tidak tahu apakah aku punya seorang ibu..., dan ayah!" kepedihan bisa kurasakan dari nada suaranya, "sejak diadopsi, aku tak diajarkan mengenal hal itu," dia terdiam. Sedikit memutar-mutar cincin itu lalu memungut tangan kananku. Meletakan benda itu diatas telepak tanganku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun