"Kau sudah bertemu dengannya."
Julie ternganga, matanya memancarkan sorot kebingungan.
"Julie, namja itu memang sudah dewasa, dan dia memang sempat membencimu. Kalau kau ingin tau apakah dia sekarang masih membencimu atau tidak, kau bisa tanyakan padanya sekarang," ucapku, "dia di depanmu, Julie. Dia adalah Yesungie oppa."
Terjadi keheningan cukup lama sebelum Yesungie oppa buka suara.
"Ketika malam itu aku melihat gantungan kunci ini jatuh, aku sudah ingin menanyakannya padamu, Julie, tapi aku tidak yakin bisa bertemu lagi denganmu. Aku sempat sakit hati karena kau tidak pamitan denganku, tapi sekarang setelah aku tau alasannya, aku bisa mengerti."
"Yesung... Yesung... oppa? ini... kenyataankah? Kita bisa bertemu lagi?" Tanya Julie tergagap.
"Tentu saja! Julie, aku senang kita bisa bertemu lagi. Rasanya berjodoh sekali ya."
Aku tersenyum menanggapi suatu akhir yang menyenangkan. Sekarang aku makin yakin Yesungie oppa adalah orang yang sangat baik. Setelah menyimpan sakit hati yang begitu lama, dia bisa memaafkan Julie, dan spontanitasnya menolong Yingmin membuatku terharu. Syukurlah!
"Aih, sudah jam empat sore. aku akan pulang sekarang, aku tidak mau terlambat untuk jadwal kami. Yifang, bagaimana, kau mau pulang juga?"
"Ng... Yifang, kalau kau punya waktu luang, aku ingin mengobrol denganmu berdua."
"Oh, aku punya. Kalau begitu oppa pulang duluan saja, aku akan pulang sendiri nanti," kataku.