Mohon tunggu...
Erri Subakti
Erri Subakti Mohon Tunggu... Penulis - Analis Sosial Budaya

Socio Culture Analyst

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Catatan Dari China di Abad I Masehi tentang "Negara Perak" di Jawa Dwipa

26 September 2024   20:18 Diperbarui: 26 September 2024   20:18 241
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar ilustrasi dari YT channel Angelick Vaulina

Dari tulisan sebelumnya saya sudah menuliskan bahwa dari jejak literatur ilmuwan di abad I Masehi, yaitu Claudius Ptolemaeus, telah tercatat ada sebuah negara yang tak lagi hanya mengandalkan ekonominya dari sektor pertanian saja melainkan juga dari sektor industri hilirisasi produk-produk berbahan perak. Dan negara itu disebut "Negara Perak", atau Argyre dalam bahasa Yunani. Terletak di Iaba-diu = Yava Dipa / Jawa Dwipa, Pulau Jawa.

Claudius Ptolemaeus juga menyebutkan letaknya di Pulau Jawa adalah di ujung baratnya.

Beberapa ilmuwan menduga lokasi yang dimaksud adalah Pandeglang. Berasal dari Pande-gelang. Kaum cerdik pandai pembuat gelang.

Selain dari jejak literatur ilmuwan Yunani di abad I tersebut, literatur dari negeri China pun mencatat bahwa pernah ada utusan dari "Yetiao" di masa Dinasti Han Timur, yaitu di abad I, tahun 25-220 Masehi.

Catatan di China itu disusun oleh Fan Ye (398-445 M) dalam jilid 6 Kitab Han Akhir (Hou Han Shu).

Dituliskan bahwa pada bulan 12 tahun ke-6 pemerintahan Kaisar Shun (131 M), negeri Yetiao mengirimkan utusan dan mempersembahkan upeti kepada Dinasti Han Timur.

Yetiao merupakan transkripsi dari Jap Div, yang berarti Yavadvipa (Jawa Dwipa alias Pulau Jawa).

Hal ini dijelaskan oleh Paul Pelliot, peneliti tentang China, dalam tulisannya di buletin l'Ecole Francais d'Extrime-Orient, Vol. 4 No1/2 tahun 1904.

Maka jelas, tak saja dari catatan ilmuwan Yunani di masa Romawi, juga ditambah dari catatan kerajaan China pada tahun 131 Masehi (abad I) bahwa memang ada sebuah negara di Jawa Dwipa, yang ditandai dengan diterimanya utusan dari kerajaan di Jawa membawa upeti untuk Kaisar Shun.

Bentuk negara kerajaan ini jelas menjadi bukti bahwa inilah negara kerajaan yang lebih awal eksis dan berjaya jauh ratusan tahun sebelum Kerajaan Kutai, yang selama ini dianggap sebagai kerajaan tertua/pertama di Nusantara.

Apakah penyebutan "negara kerajaan" itu berlebihan untuk menyebut sebuah komunitas masyarakat yang telah terorganisasi di Pulau Jawa pada abad pertama Masehi?

Tentu tidak, pertama, kembali pada catatan Claudius Ptolemaeus, sebutan negeri tersebut adalah Argyre, yang diambil dari nama kerajaan Salaka-nagara, artinya Negara Perak, dari bahasa Sansekerta.

Dan tentu saja, masyarakat yang telah mampu melakukan hilirisasi industri untuk produk-produk akhir (end product) berbahan perak, sudah pasti bukan masyarakat sederhana seperti suku asli (indigenous people). Melainkan sebuah masyarakat yang telah berkembang karena kebutuhan dasar dan ekonominya telah tercukupi.

Sehingga masyarakat di sebuah negara tersebut tidak lagi mengandalkan keahlian dan mata pencaharian hidup dari sektor pertanian dan peternakan (domestik) saja. Dan sudah jauh melampaui dari pertanian subsisten yaitu pertanian yang hanya untuk kebutuhan hidup saja. Masyarakat di Negara Perak ini berarti sudah tidak bergantung pada komoditas pertanian dan peternakan (domestik) tapi sudah menjadi masyarakat ekonomi yang memiliki visi untuk melebarkan perdagangan peraknya ke dunia. Yaitu dengan membuka hubungan baik dengan kerajaan China, yang  telah berabad-abad menjadi penghubung jalur perdagangan Timur-Barat dengan jalur suteranya.

Alasan kedua yang membuat Negara Perak Salaka-nagara patut disebut sebagai negara kerajaan adalah dengan terjalinnya hubungan--bahkan dicatat--, dengan sebuah kerajaan yang jauh lebih maju pada saat itu, yaitu kerajaan China.

Sesungguhnya catatan-catatan dari bangsa di negeri-negeri lain itu bukan isapan jempol semata yang diragukan kebenarannya. Karena sejak dituliskan pada abad I, sudah banyak ilmuwan dan peneliti yang nyaris tanpa perbedaan dalam menginterpretasikan bahwa telah ada negara kerajaan yang berdiri/berjaya di abad I Masehi di Jawa Dwipa. Dan itu bukan Kutai. Bukan pula kerajaan lain yang sudah kita kenal sebelumnya.

Jauh ratusan tahun sebelum Kutai, bahkan ratusan tahun sebelum Tarumanegara berdiri. Ada sebuah negara kerajaan yang unggul peradaban dan sistem kemasyarakatannya, ekonomi (bahkan industri), politik, budaya, hankam, dan hubungan international, yaitu Negara Perak, Salaka-nagara.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun