Mohon tunggu...
Syarifah Lestari
Syarifah Lestari Mohon Tunggu... Freelancer - www.iluvtari.com

iluvtari.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Seberapa Penting Anting-anting untuk Perempuan?

26 Maret 2020   14:08 Diperbarui: 29 Maret 2020   05:12 834
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi permpuan yang mengenakan anting-anting. (Foto: Pixabay/Dimitrivestikas1969)

Setelah beberapa bulan aktif kembali di Kompasiana, satu kesimpulan kuambil. Jangan hanya menulis, tapi baca juga tulisan orang lain. Manfaatnya banyak, salah satunya, menginspirasi kita untuk menulis topik yang sama.

Plagiat? Enggak dong! Meski ada 100 orang menulis topik atau tema yang sama, akan muncul 100 tulisan yang berbeda. Aku sudah melihat itu belasan tahun. Bukankah lomba menulis yang sering digelar kerap kali menentukan tema untuk ditulis. Berapa pun naskah yang masuk, jelas isinya berbeda.

Hari ini lagi-lagi aku terinspirasi tulisan Kompasianer panutan dari Jerman. Aku mengingatnya sebagai Kakak Medan. Sumpah, Kak, dari Word ini aku tak hapal namamu, harus buka Kompasiana dulu. Dan aku males, haha.

Sebab dengan membuka Chrome, aku akan mampir ke Twitter, Youtube, Instagram, Blogger, dst. Dilanjut ngemil, main HP, rebahan ... nulisnya pending entah sampai kapan. Jadi fokuslah dulu!

Yang dibahas adalah soal tindik di telinga. Sama dengan Kompasianer tersebut, aku pun tidak menindik telinga anakku saat bayi dulu. Alasannya; tidak tega, khawatir tidak bisa merawat lukanya, dan yang berikut ini:

Tentang Tindik

Sebagai awam agama, aku hanya tahu bahwa menindik telinga bayi perempuan hukumnya boleh. Dengan maksud dipakaikan perhiasan, dari kecil atau setelah dewasa nanti. Nah berhias bagi perempuan memang sudah fitrahnya.

Yang pernah kubaca, siapa pun bebas mengoreksi, orang pertama yang mengenakan anting adalah Hajar, ibunda Nabi Ismail as. Ada dua versi (mungkin lebih) tentang alasan ditindiknya telinga Hajar.

Pertama, Sarah, sebagai perempuan yang lebih dulu menjadi istri Nabi Ibrahim as, merasa cemburu pada Hajar. Maka ia melubangi telinga Hajar agar ia tampak tidak menarik. Sebab selain cantik, Hajar juga mampu memberi Nabi Ibrahim keturunan. (Setelah Hajar hamil, Sarah pun dikaruniai keturunan oleh Allah, yaitu Nabi Ishak).

Versi kedua, Sarah pernah bersumpah akan menyakiti Hajar karena menurutnya Nabi Ibrahim lebih cenderung pada Hajar daripada dirinya. Agar tak jadi zalim dan tetap melaksanakan sumpah, Nabi Ibrahim meminta Sarah agar melubangi telinga Hajar yang bagian bawahnya saja.

Alih-alih tak menarik, Hajar justru terlihat lebih cantik ketika lubang itu kemudian dipasangi perhiasan. Alhasil, kebiasaan ini diikuti oleh para perempuan sampai generasi sekarang.

Pengalaman Pribadi

Waktu kecil aku berambut pendek. Agar anaknya tampak lebih perempuan, orangtua memakaikanku anting-anting. Bahkan sampai dewasa muda, setiap kali pakai anting-anting, aku pasti kehilangan benda itu.

Sampai kapan pun, harga emas itu mahal. Jadi kasihan orangtua dan kakak-kakakku kalau setiap hilang harus beli lagi. Pakai sebelah saja (karena yang hilang biasanya cuma sebelah) tidak boleh. Malah kayak preman, kata mereka.

Dipakaikan yang bukan emas, alamat gatal-gatal! Jadi kubiarkan lubang di telinga menganggur. Setelah pakai jilbab, makin tak berguna itu lubang.

Pada sebuah pengalaman yang bukan milikku. Seorang teman yang bekerja sebagai pengasuh anak di sebuah Rumah Balita, pernah perang dingin dengan bos dan salah satu wali. Saat seorang anak dititipkan padanya, anak itu memakai anting-anting. Ketika dijemput, anting si anak tinggal sebelah.

Akhirnya tertuduhlah sang pengasuh. Ketika di hari berikutnya sebelah anting itu ditemukan, tuduhan justru makin meruncing. Lah?

Dikasihani 

Ketika si Kakak masih bayi, terlihatlah ia tidak mengenakan anting-anting. Kupakaikan jilbab semata agar ia terbiasa tertutup. Saat di dalam rumah, ya dibuka. Ketika di luar rumahku dan ia kegerahan, kubuka juga. Karena prinsipnya untuk pembiasaan.

Tapi ada orang lain yang merasa punya insting detektif. Menurutnya, jilbab dipakaikan untuk menutup telinga yang tak ada tindiknya. Lalu disesalkanlah kenapa aku tidak menindik telinga anak perempuanku. Padahal aku gak makan beras dari dia.

Lebih ngeselin lagi, ketika seseorang dengan wajah sendu melihat pada si Kakak, lalu bilang, "Beli anting yang setengah gram be dak mahal lah."

Ingin kuberkata kasar.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun