Mohon tunggu...
M.Dahlan Abubakar
M.Dahlan Abubakar Mohon Tunggu... Administrasi - Purnabakti Dosen Universitas Hasanuddin
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Dosen Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Ramang Berlatih, Langka dan Aneh (9)

9 April 2021   14:41 Diperbarui: 9 April 2021   15:01 493
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ramang dan tim PSM, 1965.

Pada masa "Vereenigde Oost Indische Compagnie" (VOC),  Perusahaan Belanda Hindia Timur, perusahaan dagang dibentuk Belanda pada 20 Maret 1602, bangsawan Gowa memberi kewenangan kepada Belanda mengubah nama Karebosi menjadi "Koningplein" (lapangan).

Makam "Tujua" ini terkenal di tengah masyarakat. Setelah revitalisasi lapangan Karebosi, makam ini mendapat tempat yang sangat "layak" dan terlindung dari segi keamanan karena dipagar keliling. Di sekitarnya juga tumbuh pohon.  Sejumlah budayawan yang menolak rencana Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin merevitalisasi Karebosi berdalih akan merusak situs peninggalan purbakala ini. Kini, situs itu lebih terjaga dan indah dipandang.

Kembali ke Persis, klub tempat Ramang awal berkiprah. Klub ini bertaburan pemain bintang. Nama-nama pemain PSM yang lahir dari klub ini di antaranya Santja Bachtiar, Sampara, Makmur Chairuddin, Suwardi Arland, Noorsalam, dan Kurnia. Sementara di klub MOS ada M.Basri, Harry Tjong, Latandang, Itjing Pasande, Idris Mappakaya, Manan, dan Solong.

Di klub Excelsior ada Frans Jo, sedangkan Rairatu berasal dari klub POM Maluku.

:Kalau Persis dan MOS bertemu (bertanding) pasti seru," komentar M.Basri, salah seorang pemain nasional, PSSI, yang juga beberapa kali menukangi kesebelasan PSM.

Mengenai seniornya, Ramang, Basri mengatakan, dia mengatur sendiri model latihannya. Dia sudah baku berlatih, memiliki gerakan tanpa sentuhan seorang pelatih. Basri sendiri belum pernah melihat pemain yang jika menendang bola demikian keras dan akurasinya selevel Ramang. "Speed" (kecepatan) dan "power" (kekuatan)-nya luar biasa. Dia memang pemain bola alam. Jika dia mau mencetak gol, susah dibendung.

Basri juga bercerita kepada saya soal sepatu yang dipakai Ramang dan pemain PSM lainnya pada masanya. Sepatu mereka bukan produk pabrikan dan apalagi impor, melainkan produk lokal, Maricaya, salah satu lorong yang dikenal biasa membuat sepatu menurut pesanan di Makassar kala itu. Namun bahannya dari kulit asli, sehingga sangat kuat dan "bandel".

"Kerasnya bukan main," kata Basri.

Biasanya, Ramang mengukur sendiri "roal" (bagian yang muncul di bawah sepatu bola dan biasanya tampak ada kepala paku-paku kecil) sepatunya. "Roal" sepatu ini ada yang 6, 8, dan 11. Ramang biasa memasang roal 6. Tak jelas mengapa dia memilih 6.  (Bersambung)

Ramang dan tim PSM, 1965.
Ramang dan tim PSM, 1965.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun