Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis - Ex Banker

Blogger, Lifestyle Blogger https://www.inatanaya.com/

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan Hingga Tujuh Kali, Indonesia Ancang Kuda

17 Juni 2022   21:19 Diperbarui: 18 Juni 2022   05:28 1063
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gedung Dewan The Federal Reserve di Washington DC, Amerika Serikat. Foto: AFP/DANIEL SLIM via Kompas.id

Awal bulan Juni yang lalu saya terkejut mendengar mahalnya harga barang-barang konsumsi dan energi, yang dibeli oleh teman saya. Teman saya tinggal di kota Portland, USA menceriterakan kekagetannya kenapa harga barang-barang konsumsi dan energi  itu naik  begitu drastis hampir 8% dari harga semula.

Tadinya saya tak menganggap serius pernyataannya. Mungkin dia sedang lelah dan kesal saja. Namun, justru yang membuat saya kaget ketika saya melihat suatu grafik tentang inflasi di Amerika Serikat mencapai 8,3% di tahun 2022.  Benarkah ini?  Mata saya agak tidak percaya dengan saya lihat.

Sebelumnya The Fed pernah mengatakan tidak akan menaikkan suku bunga di tahun 2022. Namun kenyataannya, The Fed yang dimotori oleh Jerome Jay Powel yang  telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin di bulan yang lalu.

Namun, tiba-tiba pada hari Kamis, tanggal 16 Juni, the Federal Kembali  menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0.50 bps atau sama dengan 0,5 persen, menjadi 1,5-1,75%. Langkah ini dianggap sebagai Langkah strategis , gerak cepat untuk merespon tingginya inflasi di Amerika SErikat.

Kenaikan 75 basis poin merupakan terbesar sejak tahun 1994 dan belum akan berakhir. Sebuah survey dari Fed Dot Plot mengatakan bahwa kebijakan moneter yang dibuat the Fed ini akan menaikkan suku bunga sampai akhir tahun mencapai di angka 3,4%  atau antara 3,25-3.5%

Berbagai analis telah memprediksi the Fed harus merespon hal ini karena harga konsumen (CPI) Amerika Serikat telah melesat sebesar 8,6 persen per tahunan, pada bulan Mei 2022.

Dalam pertemuan selanjutnya,  the Fed tidak akan memperdebatkan soal kenaikan suku bunga acuan ,bahkan menghentikan pertemuannya. Mereka ingin melihat dampak dari kenaikan suku bunga acuan ini terhadap ekonomi domestic maupun global.

Dilematis kebijakan The Fed karena mereka tidak mungkin diam saja melihat inflasi yang begitu tinggi.  Sementara daya beli warga Amerika Serikat sudah turun (gaji tetap tapi harga sudah melambung).   Untuk menekan inflasi pasti harus menaikkan suku bunga acuan.  

Bahkan tren kedepannya,  seorang Ekonom Barclay pun mengatakan bahwa suku bunga acuan akan dinaikkan sebesar 0,75 persen dalam pertemun yang akan datang.

Namun, apakah kenaikan suku bunga acuan itu pasti dapat meredam inflasi tinggi yang ada di Amerika? Sejumlah ekonom pun mengatakan , tidak bisa dijadikan prediksi bahwa kenaikan suku bunga ini akan segera meredam inflasi.

Yang akan terjadi sebaliknya, jika kenaikan suku bunga sampai akhir tahun mencapai 3,5 % , tentunya hal ini akan berdampak  resesi di Amerika Serikat. Jika resesi terjadi terlalu lama akan menghantam perekonomian dalam jangka Panjang juga.

Kenaikan suku bunga membuat bisnis menjadi lesu, orang tidak bisa berbisnis karena biaya suku bunga pinjaman begitu tinggi.  Demikian juga orang yang mau pinjam uang untuk sekolah (di Amerika biaya sekolah dapat meminjam) pasti dinaikkan, lalu perputaran bisnis dan kegiatan ekonomi pasti akan terdampak cukup berat.

Gedung Federal Reserve. Foto oleh CNN Money via Kompas.com
Gedung Federal Reserve. Foto oleh CNN Money via Kompas.com

Apa dampaknya bagi Indonesia?

Jika  Bank Sentral (The Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga karena inflasi yang tertinggi selama hampir 40 tahun, maka kenaikan suku bunga acuan akan ikut menggerek yield obligasi.

Seperti kita ketahui pasar obligasi di Amerika Serikat itu hebat sekali nilai marketnya. Valuasinya mencapai USD 23 triliuun. Jadi apabila pasar ini "tergoncang" maka dampaknya akan signifikan.

Pertanyaannya apakah investor asing yang membeli obligasi di pasar modal akan lari kembali ke negara Paman Sam? Mereka tentunya mengincar suku bunga yang tinggi di sana.

Namun, lagi-lagi menurut ketua Pasar Modal Indonesia mengatakan bahwa sebelum suku bunga acuan dinaikkan oleh the Fed, jumlah investor asing yang membeli obligasi Indonesia tidak begitu besar.

Demikian juga menurut Ibu Sri Mulyani, dampak dari kenaikan suku bunga acuan the Fed itu harus diperhatikan agar tidak terjadi cashflow di pasar obligasi akibat keluarganya investor asing (capital flow).  Tetapi Ibu Sri Mulyani mengatakan tak perlu khawatir karena fundamental ekonomi Indonesia saat ini kuat (export dan cadangan devisa). Cadangan devisi kita di akhir Mei 202 mencapai USD 21,51 miliar.

Hanya diperhatikan apabila kenaikan suku bunga acuan itu akan berdampak dari segi cost of fund di European Central Bank, yang merupakan keniscayaan pasti terjadi.  Inilah yang harus diperhatikan untuk kebijakan fiskal yang mempengaruhi APBN kita.   

Oleh karena itu Ibu Sri Mulyani meyakinkan kita semua bahwa kita semua harus melindungi APBN dengan mengurangi utang dan deficit yang terjadi pada tahun lalu melampai 6%.  Tahun ini diharapkan bisa turun Kembali ke 3%.

Akhirnya kita berharap yang terbaik untuk semua kebijakan yang telah dibuat oleh the Fed.  Pengaruh dan dampak global tidak menggoncang ekonomi Indonesia.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun