Kunjungan saya ke Borobudur dua kali itu memang tak punya misi apa pun. Kunjungan yang pertama adalah dalam rangka  ikut rombongan sekolah ketika saya masih duduk di bangku SMA. Tujuan utamanya untuk memperkenalkan Borobudur sebagai salah satu keajaiban dunia atau sering disebut dengan Wonderful Indonesia saja.
Ketika sampai di Borobudur, kami memang tidak menggunakan pemandu untuk mengetahui sejarah pembangunannya . Bahkan, kami tidak mengetahui arti atau makna stupa dan relief yang dibuat sangat spektakuler , tanpa semen .
Kunjungan kedua ke Borobudur adalah dalam rangka outing Kantor kami sebelum mengadakan Night Show dengan background Borobudur.   Sore hari kami hanya melihat dari kejauhan kemegahannya tanpa  bisa mengexplorasi  sejarah Reflief Borobudur.
Namun di malam hari itu kami mengadakan "Night Show" dengan latar belakang kemegahan Borobudur sebagai Wonderful Indonesia. Â Betul-bentul menggagumkan bahwa musik dengan latar belakang Borobudur itu menjadi perpaduan yang sangat harmoni, Â budaya bangunan dan budaya musik.
Ternyata pagelaran musik yang pernah saya tonton  itu berbeda dengan apa yang saat ini dikembangkan.  Musik yang dipangelarkan saat kantor saya mengadakan itu hanya sekedar musik jazz, rock yang tidak ada kaitannya dengan  Sound of Borobudur.  Hanya suatu pagelaran music dengan latar belakang kemegahan Borobudur saja dengan kemegahan lighting yang memukau.
Sayang sekali bahwa kunjungan pertama dan kedua  itu bagaikan suatu wisata sejarah dan wisata budaya yang tak punya makna sama sekali. Padahal banyak hal yang bisa digali di sana, mulai dari sejarah pembangunan sampai relief.
Relief alat musik di Candi Borobudur yang  berjumlah 200 relief itu berada di 40 panel dan menampilkan 60 jenis alat musik dari berbagai daerah Nusantara dan banyak negara di dunia.Â
Loh kok bigsa begitu hebat yach, padahal saat pembangunan Borobudur itu 13 abad yang lalu.  Ini membuktikan bahwa Borobudur  pusat musik dunia sangat menakjubkan dan spektakuler.
Sejarah Sound of Borobudur
Dalam dunia arkeologi , Universitas Gajah Mada itu mengingatkan saya Kembali kepada pembelajaran itu dapat dilakukan dimana pun dan kapan pun.
Pembelajaran budaya merupakan sumber pembelajaran yang  menarik tapi juga mengenal lebih dalam peninggalan warisan budaya.  Objek yang dipelajari adalah relief yang berada di Candi Borobudur.
Inilah saatnya saya belajar tentang Borobudur dan Sound of Borobudur.