[caption caption="internasional.rimanews.com"][/caption]
Sebagai seorang gadis muda yang masih bersekolah, pasti akan menyukai hari Valentine. Pada umumnya setiap gadis muda akan membuat sebuah kartu untuk teman pria, teman karibnya, ibunya atau oma yang selalu disayangi. Dan pertanyaan yang berada dalam benak pikiran seorang gadis muda adalah : “Apakah engkau mau menjadi kekasihku (my valentine)?”.
Sebagai seorang gadis dewasa, Hari Valentine merupakan momen yang populer maupun romatis bahkan dengan pertanyaan besar, yang menyangkut implikasi dan konsekuensi dari sebuah kehidupan yang berlangsung lebih panjang: “Kekasihku, apakah engkau mau menikah denganku?”.
Namun, hal ini tidak terjadi di Ethiopia. Di tanggal 14 Pebruari 2016, sebanyak 37,000 gadis muda telah memiliki tubuh dan integritas tentang sex yang rusak. Mereka tidak dapat lagi menikmati valentine. Mereka ini akan menjadi pengantin perempuan anak. Mereka tidak memiliki orang yang tercinta.
Mereka adalah korban dari pemerkosa dewasa. Perempuan muda itu adalah tidak memiliki impian dengan kekasih mereka yang mereka sayangi; yang mereka miliki hanyalah trauma neraka abadi, dan mereka memiliki resiko tidak ada yang menaksir mereka lagi. Bahkan mereka dibayangi oleh resiko besar seperti fistula obstetri, dan bahaya lain seperti kehamilan remaja dan kekerasan seksual.
Pernikahan anak adalah penyalahgunaan massa hak asasi manusia. Ini mengurangi Pembangunan Manusia secara Global. Jika seorang gadis masih dapat bersekolah sampai di usia dewasa, hal ini dapat meningkatkan taraf kehidupan ekonomi maupun sosialnya.
Setiap penundaan untuk menikah dengan tetap bersekolah, maka usia untuk memiliki anak pertama akan tertunda dari enam sampai 10 bulan. Pernikahan dini anak gadis akan melemahkan dan mengisolasi dirinya. Menjadi pengantin anak membuat resiko besar
Dari kematian atau cedra. Bahkan dari komplikasi dari kehamilan dan persalinan adalah salah satu penyebab utama kematian di kalangan remaja perempuan berusia 15 sampai 19. Seorang istri yang telah dewasa akan dilengkapi dengan pengetahuan tentang perawatan, emosi, finansial untuk anak-anaknya. Bermodalkan cinta saja tidak dapat cukup.
Mari kita mendengarkan keluhan dari seorang gadis muda yang harus dikawinkan. Suara yang bergema itu terus membuat kita makin terharu karena gadis itu menggambarkan bagaimana pedih hidupnya dalam perbudakan domestik, pemisahan traumatis dengan keluarga maupun teman-temannya. Bahaya yang mengancam jika gadis itu mencoba ke luar dari perbudakan domestik dengan rutin dipukuli, diremehkan, tidak dapat mengakses layanan kesehatan, bahkan tak mampu untuk askes ekonomi,kesehatan dan finansial.
Menurut Ashley Judd: 'perkawinan anak merupakan sebab dan akibat dari kemiskinan dan gender ketidaksetaraan' Pernikahan anak adalah sebab dan akibat dari kemiskinan dan gender ketidaksetaraan. Lebih dari 700 juta orang masih hidup dalam kemiskinan ekstrim pada kurang dari $ 1.9 (£ 1,31) per hari. Dapatkah Anda bayangkan dengan uang yang sangat sedikit itu dapat memberi makan, mendapat layanan kesehatan , dan mendidik anak-anaknya? Mereka merasa putus asa dan tidak mampu merencanakan dan ruang kelahiran .
225 juta perempuan masih kekurangan untuk dapat akses ke keluarga berencana yang modern .
Perdagangan atau penjualan gadis untuk pria bagaikan solusi praktis. Solusi dari suatu keadaan tanpa adanya pilihan atau keputus- asaan: menderita kerugian dalam fisik demi sedikit mendapat uang, makanan , dan bahkan hanya sedikit waktu untuk mendedikasikan untuk anak-anak. Kondisi sosial yang kecenderungannya yang besar bahwa anak-anak, dan fakta bahwa anak perempuan dan perempuan dianggap sebagai sumber tenaga kerja murah dan jumlah reproduksi mereka.
Masa surama bagi pernikahan anak karena dengan adanya pernikahan dini berarti menabur benih untuk mengabadikan kemiskinan, luka fisik dan mental dan hati yang hancur.
Atau pilihannya adalah, gadis yang mampu untuk pengurangan kemiskinan dengan memiliki pendidikan; dengan menjadi pelaku ekonomi, penggerak pembangunan yang berkontribusi pada kesejahteraan keluarga dan masyarakat mereka. Gadis di sekolah dari waktu ke waktu menambahkan lebih untuk GDP negara mereka.
Para pemimpin kita telah sepakat bahwa kita perlu untuk mengakhiri kemiskinan dan melawan ketidaksetaraan, dan bahwa memperjuangkan anak perempuan dan perempuan kami sangat penting untuk memajukan mimpi manusia umum dunia yang lebih baik. Sebagian besar negara telah melarang perkawinan bagi orang-orang di bawah 18, dan mengakui manfaat dari memiliki jumlah yang sama dari anak perempuan dan anak laki-laki di sekolah, universitas dan tempat kerja.
Namun, banyak negara masih dan belum menegakkan undang-undang. Oleh karena itu, impunitas juga harus berakhir, dan gadis-gadis yang berbicara, dan mereka yang tidak bisa, harus memiliki keadilan.
Pada hari Valentine, kita tak hanya memikirkan kekasih, anak-anak Anda sendiri, naksir rahasia tetapi kita berpikir tentang ribuan perempuan pada hari ini, dan setiap hari, yang tidak dapat memilih kekasih atau pasangan sesuai keinginan tetapi karena pemaksaan.
Mari kita membuat surat cinta kami tahun ini cri de coeur yang menuntut keadilan sosial, integritas tubuh dan otonomi seksual untuk anak perempuan, sehingga mereka bisa menjadi orang dewasa diberdayakan yang memilih kapan, dan siapa, untuk menikah.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI