Mohon tunggu...
Akhlis Purnomo
Akhlis Purnomo Mohon Tunggu... Penulis - Copywriter, editor, guru yoga

Suka kata-kata lebih dari angka, kecuali yang di saldo saya. Twitter: @akhliswrites

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

"Soft Power", Sebuah Senjata Taiwan Melawan Dominasi China

7 Agustus 2022   07:11 Diperbarui: 11 Agustus 2022   11:00 527
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Taiwan, Pemandangan menara Taipei 101. (sumber: SHUTTERSTOCK / FenlioQ via kompas.com)

MEMBANDINGKAN China dan Taiwan seperti membandingkan raksasa dan manusia biasa. Seperti kisah legendaris Goliath dan David.

Dalam banyak aspek, China sangatlah unggul dan hebat. Ia perekonomian kedua terbesar di dunia. Dan tak tertutup kemungkinan bakal menjadi yang nomor wahid. Soal militer, China juga bukan negara abal-abal. 

Xi Jin Ping sangat 'all out' soal pertahanan negara. Anggaran militer China tahun 2022 saja 230 miliar dollar AS.

Bandingkan dengan Taiwan yang ekonominya di peringkat 18 secara internasional dan anggaran militer negara pimpinan Tsai Ing Wen di tahun ini cuma 2,3 miliar dollar AS.

Meski jauh lebih kecil, Taiwan bukannya sebuah entitas yang tidak bisa memengaruhi China.

Menurut Steve Tsang dalam buku yang ia sunting Taiwan's Impact on China: Why Soft Power Matters More than Economic or Political Inputs terbitan Palgrave MacMillan tahun 2017, Taiwan juga menancapkan pengaruhnya terhadap China melalui 'senjata tak kasat' matanya: soft power.

Salah satu contoh soft power milik Taiwan yang dimaksud ini adalah aktivitas ekspor SDM unggul mereka (pakar-pakar, orang-orang berbakat dan cerdas) ke China sejak dekade 1990-an. 

Meski jauh lebih kecil, Taiwan memiliki keunggulannya sendiri. (Foto: commons.wikimedia.org)
Meski jauh lebih kecil, Taiwan memiliki keunggulannya sendiri. (Foto: commons.wikimedia.org)

Bahkan dikatakan bahwa Taiwan menghubungkan basis industri China ke jaringan global melalui jejaring bisnis yang dikembangkan dengan susah payah oleh para pengusaha Taiwan pasca perang.

Taiwan dengan demikian memberikan sumbangsih dan pengaruh pada perkembangan ekonomi dan modernisasi China. 

Tanpa kontribusi Taiwan, reformasi post Mao Zhe Dong tak bakal sukses seperti sekarang, mengantar China ke level yang setara dengan Amerika Serikat yang jadi musuh bebuyutannya.

Dalam ranah budaya populer, Taiwan juga memiliki pengaruh yang tak kalah kuat ke China. Produk musik, gagasan dan praktik dalam kehidupan sehari-hari dari Taiwan banyak mengalir ke rakyat China Daratan.

Produk budaya Taiwan seperti lagu, novel, dan puisi yang dihasilkan deretan seniman terbaik Taiwan berhasil menarik perhatian audiens China Daratan di era Deng Xiao Ping tahun 1980-an.

Para seniman Taiwan seolah berhasil mengisi kekosongan dan kebutuhan budaya para warga China Daratan akibat kekangan rezim Mao kala itu. Lagu dan penampilan Deng Lijun, novel-novel Qiong Yao dan puisi-puisi Xi Murong dianggap bisa mengisi kekosongan ini.

Dalam bab "Impact Based on Soft Power" oleh Tsang di buku yang sama, dikatakan Taiwan juga sebetulnya berpengaruh secara politis terhadap China. 

Dengan kesuksesan demokrasi dan kebebasan berpendapat di Taiwan yang membuat kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat meningkat, rasanya musykil bagi rakyat China Daratan yang terkungkung dengan banyak aturan dan sensor media sosial untuk tidak iri. 

Partai Komunis China yang menerapkan sistem Leninisme konsultatif tentu menentang demokrasi ala Barat yang diterapkan Taiwan.

Namun demikian, soft power yang dimiliki Taiwan ini tidak secara sengaja direkayasa oleh pemerintahnya. 

Taiwan memberikan pengaruh pada kehidupan rakyat China Daratan saat ini dengan menjadi diri mereka sendiri dan menentukan jalan hidupnya sendiri, sesuatu yang tidak bisa dilakukan China Daratan selama Partai Komunis berkuasa.

Soft power milik Taiwan dengan demikian berbentuk sebuah pengaruh yang dihasilkan dengan memamerkan sebuah model alternatif mengenai modernitas tanpa pengekangan berlebihan terhadap kebebasan berekspresi rakyat.

Taiwan menyodorkan sebuah kemungkinan bagi rakyat China bahwa stabilitas negara dan kesejahteraan rakyat tak perlu digadaikan dengan demokrasi dan kebebasan berpendapat. Semuanya itu bisa didapatkan dalam waktu yang bersamaan. (*/)

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun