Jadi phobia itu sekarang sedang menghinggapi para penonton yang obsesinya tak terkendali. Sebuah artikel sahabat kompasianer dengan cemerlang menggambarkan realitas itu. Fenomena yang tak disangka, dan kenapa fenomena "layangan putus" begitu sangat absurd untuk dianggap sebagai sebuah realitas biasa.
Ini adalah bagian dari "retaknya" harmonisasi yang secara perlahan melanda kehidupan kita, karena digitalisasi, karena berubahnya persepsi. Terutama dari kacamata tata nilai "ketimuran" kita.
Apalagi melihat dari sudut  pandang agama jelas memiliki cara memandang atau perspektif yang sangat dogmatis. Pasangan adalah milik pasangan, dan disana berlaku aturan, boleh dan tidak boleh.
Kita Kehilangan Logika?.
Memang harus diakui, "layangan putus" memberikan tontonan yang  menggugah kesadaran, bahkan hingga membuat realitas film menjadi seperti dunia nyata. Terutama karena pilihan sisi temanya, "perselingkuhan" sebagai realitas kekuatiran paling jamak dan rentan terjadi saat ini, ketika kecanggihan teknologi komunikasi begitu mempengaruhi persepsi kita.
Namun di luar dugaan, dari begitu banyak film serupa yang mengambil sisi "perselingkuhan" sebagai tema sentralnya, ternyata "layangan putus" memberi efek paling dramatis, dan nyaris membuat kita seperti kehilangan logika ketika menontonnya, bahwa film itu hanya sebuah "tontonan".
Tapi sekali lagi, pilihan temanya, membuat kenyataan ini menjadi begitu mudah kita terima, karena begitu masifnya kasus perselingkuhan melanda kita. Para selebriti, mempertontonkan kepada kita layaknya skenario, para elite juga tak kalah, konon lagi publik yang luas. Konten "Perselingkuhan" juga bagian dari "kecintaan" media infotainment.
Blundernya selalu dimulai dari model komunikasi yang semakin lama semakin canggih, semakin tidak bisa diukur. Bahkan gejala, permisif atau tidak dari pasangan kita sendiripun, tak bisa dijadikan indikasi. Bisa karena alasan pekerjaan, alasan pertemanan, solidaritas grup, kelompok, semuanya bisa menjadi muasal timbulnya kasus seperti Kinan dan Aris.
Film "layangan putus" mem-blow up isu "perselingkuhan" itu, menggiring persepsi kita dan membangun kesadaran baru tentang bagaimana semestinya kita berkomunikasi dengan baik dan benar, dalam keluarga, dengan pasangan kita.
Jadi kebencian saya sebenarnya karena mengapa fenomena "layangan putus" begitu "menggoda" persepsi menjadi seolah nyata. Jika kita bisa menggunakan medium film meluruskan persepsi menjadi begitu positif, maka kisah dan fenomena "layangan putus" adalah "guru yang baik" untuk kita saat ini.