Menurut Nasrullah Azis, yang biasa dipanggil Pak Ulla, data arkeologi gua Mbokita dan Gua Berlian, adalah data tambahan terbaru di pesisir Morowali, mengingat sebelumnya, arkeolog Jepang pada tahun 2018 juga telah melakukan serangkaian penelitian arkeologi dan menemukan data-data penting tentang peradaban prasejarah di Moorowali.Â
Arkeolog Jepang Rintaro Ono bekerjasama dengan para arkeolog Puslit Arkenas dan Balar Sulut juga telah melaklukan serangkaian penelitian untuk menelusuri jejak purba di wilayah Morowali. Â Setidaknya ada empat situs prasejarah berumur holosen awal dan plestosen akhir ditemukan Ono.Â
Gua prasejarah Gililana, dengan hasil pertanggalan 11 (sebelas) ribu tahun yang lalu dan 29 (duapuluh sembilan) ribu tahun yang lalu. Gua Kunefo dengan umur pertanggalan 9 (sembilan) ribu tahun yang lalu. Gua Topohuhu, dengan pertanggalan 10 (sepuluh) ribu tahun yang lalu dan Gua Topogaru dengan pertanggalan 24 (duapuluh empat) ribu tahun yang lalu.Â
Secara kebetulan, tetangga terdekat dari Morowali, yang berbatasan dengan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali, terdapat tiga situs potensial di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.Â
Secara kebetulan pula, baik Morowali maupun Konawe, saat ini dikenal sebagai wilayah di daratan Sulawesi yang dikenal sebagai penghasil tambang nikel yang sangat populer, dan produk hilirisasi tambang nikel seperti Lithium, konon dikenal sebagai bahan baku utama, untuk batterai untuk mobil listrik. Bahan negera-negara industri besar, bersaing untuk menanamkan investasi tambangnya.Â
Menurut Nasrullah Azis, arkeolog Balar Sulut, himpunan gua hunia prasejarah pada satu kawasan litologi tersebut, semakin menguatkan asumsi bahwa, ada sekelompok manusia prasejarah yang menghuni kawasan Morowali-Konawe pada masa holosen awal dan plestosen akhir.Â
Tentu saja, manusia di masa holosen awal dan pelstosen akhir di daratan pada kawasan Morowali dan Konawe itu melakukan okupasi terhadap alam dan lingkungannya. Jejak itu penting untuk terus ditelusuri perkembangannya, hingga munculnya masa sejarah dan perkembangan kehidupan yang lebih modern, yang berlangsung hingga saat ini.
Bagi saya, kacamata melihat fenomena sumberdaya budaya ini, adalah sebagai jejak peradaban masa lalu, yang tak pernah berhenti. Ia hadir mengikuti arus waktu, ada dan akan selalu mewarnai perjalanan peradaban, hingga Morowali tampil saat ini menjadi wilayah industri tambang yang ramai dan penuh hiruk pikuk, serta hingar bingar.Â
Masa lalu, mungkin saja laksana ruang sunyi, waktu yang tak dipeduli, namun fakta kehadirannya dengan jejak-jejak yang ditinggalkannya, adalah nuansa zaman yang turut menghidupi proses perjalanan zaman. Morowali, adalah bukti kekayaan masa lalu, yang tak pernah mati hingga kini.Â