*Duka dan Asa*
Aku menjumpaimu ditengah semak belukar penderitaan
Dan mendengar suara gemerisik ilalang perih tajam di tengah gersang
Pada suatu siang ketika matahari terik menikam jantung berpeluh resahmu
Lalu tapak-tapak kakimu terlihat tergores, terajam penuh luka penyesalan
Apakah kau hendak lari dari kenyataan atau kau hadapi dengan lantang
Pahamilah, kau harus menjemput semua dukamu dengan jiwa lapang
Kau adalah pengembaraan jiwa pada harapan yang kau tentukan
Maka, kehadiranku bukanlah setitik nyala api pada kegelapan
Sebab suluh itu adalah nyala yang hanya bisa kau hadirkan sendiri..
Lalu kau pula yang harus mencari mata air di bawah semak dukamu
Dan yang mengalirkannya pada kubangan lumpur kesalahanmu
Agar semak duka yang kau tanam, tumbuh menjadi rumput hijau penuh harapan

Manusia yang sesungguhnya mencari Keridhoan Illahi..
Aku mengerti semua hal tentang dirimu yang sejati...
Mencari jalan atas banyak liku-liku yang menyesatkan tanpa kau pahami
Saatnya kau tundukkan keangkuhanmu, sebab kini kau sadar hanyalah seorang lemah..
Niscaya, percayalah...kau akan menemukan asa dan kekuatan jiwa...
Lalu, kau akan semaikan pada setiap jalan kebaikan...suatu saat nanti..
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI