Apa yang kalian cari ketika bangun tidur? Jujur saja, semenjak saya memiliki handphone, ketika bangun tidur saya langsung mencari Handphone. Â Saya ingin tahu jam berapa saya bangun. Lalu saya bukan SMS. Setelah digital makin canggih, ketika bangun tidur saya melihat jam, cek pesan di WhatsApp dan cek story instagram dan status WhatsApp. Hasilnya, Â ketika bangun tidur saya menghabiskan waktu 15 menit untuk bermain dengan handphone. Berarti, sholat subuhku juga agak terlambat karena aktivitas yang nggak penting itu. Astagfirullah. Aku ingin tobat.
Entah kenapa ya, gadget itu candu banget. Bahkan ketika kuota habis saja, saya sempat berswafoto. Kan nggak penting ya? Lagi-lagi kebiasaan saya ini sungguh buruk.
Hari ini, tepat pada tanggal 23 April ditetapkan sebagai hari buku sedunia. Memperingati hari tersebut, saya menertawakan diri saya. Berapa banyak buku yang sudah saya baca selama  sebulan? Setahun? Aaaah, barangkali Cuma 6 sampai 9 buku saja. Menyedihkan bukan?
Terkait hari buku sedunia, saya langsung mereflesikan diri sendiri. Mengapa saya lebih kecanduan gadget dibandingkan buku? Padahal dulu saya satu bulan bisa membaca minimal 1 buku. Lebih menyedihkan lagi, ternyata yang saya alami ini juga dialami oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.
Melansir dari Kompas.com, rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku.
hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) Indonesia berada dirangking 62 dari 70 negera. Sementara  'World's Most Literate Nations' yang diumumkan pada Maret 2016, produk dari Central Connecticut State University (CCSU) menyebutkan tingkat literasi di Indonesia mendapatkan peringkat 60 dari 61 negara yang di survei. Nah, kalian bisa menilai sendiri, seberapa rendahnya tingkat literasi di negara berflower ini.
Namun, di balik data yang membuat prihatin itu, ada sebuah kabar gembira bagi pemilik perusahaan Instagram. Instagram menjadi media sosial favorit orang Indonesia.
Data terbaru Facebook mengungkap pemakai instagram di Indonesia merupakan terbesar di Asia Pasifik. Dari 700 pengguna aktif bulanan alias monthly active user (MAU) yang diraup Instagram secara global, 45 juta di antaranya berasal dari Indonesia. Dengan data itu kita bisa tahu bahwa pendapatan Instagram sebanyak apa? Duh, bisa buat beli permen se pulau Bali.
Jujur, saya pribadi pengguna aktif Instagram. Sehari rata-rata saya berselancar di Instagram selama 2 sampai 3 jam. Anehnya, saya pribadi tidak merasa bahwa waktu itu begitu lama, saya merasa asyik saja. Kalau kita hitung, waktu 3 jam bisa dipakai untuk membaca sebanyak 50 halaman buku lebih.
Tapi saya begitu kecanduan dengan aplikasi yang kaya akan visual itu. Mungkin pengalaman saya ini juga dialami oleh kalian? Hayo ngaku, jujur aja deh.
Terkait dengan rendahnya literasi kita dan tingginya aktivitas kita di sosial media membuat saya sendiri merasa malu dan tertampar. Saya kecanduan Instagram berawal dari teman-teman saya sering membicarakan hal-hal yang tengah viral.
Teman-teman saya begitu update dengan challange yang viral itu, misalnya challangekiki, challangedancerxking dan lainnya. Teman-teman saya juga sering membicarakan video viral, entah video lucu, video menyayat hati maupun video-video dari kalangan selebriti. Hal itu yang membuat saya tak mau ketinggalan dan merasa hidup di gua jika tidak tahu obrolan mereka. Sungguh, ini bukan kesalahan teman-teman saya, ini salah saya sendiri karena kecanduan Instagram.
Tentu saja, pengalaman saya itu mungkin juga dialami oleh anak muda lainnya. Berapa banyak anak muda ketika ngumpul dan nongkrong membicarakan soal buku. Mungkin ada, tapi jumlahnya sangat kecil. Ketika seseorang memantik untuk membicarakan buku, teman-teman yang lain seolah tidak tahu akan pembicaraan itu Dan akhirnya  ngomongin dunia sosial media lagi.
Menciptkan budaya literasi dan berdiskusi memang cukup sulit. Tapi bukan nggak bisa ya, itu tetap bisa. Butuh komitmen dan kebiasaan. Kita juga harus mengubah mindset kita bahwa anak gaul adalah anak yang banyak membaca buku, bukan anak yang serba tahu tentang dunia persosmed-an yang tengah viral. Tentu tahu tentang somed boleh, tapi lebih keren lagi kalau baca buku.
Mengapa sosmed dan kebiasaan buku menjadi dua persoalan yang tidak bisa dipisahkan? Karena sosmed seperti di Instagram, Twitter maupun Facebook adalah media untuk berbagi. Kalau kita sering membaca buku, tentu yang kita bagikan adalah ilmu. Terlebih ketika kita berkomentar menanggapi sesuatu, kita kan lebih bijak dan berdasarkan ilmu. Bukan hanya emosi dan kata-kata serapah yang bikin sakit hati.
Hari Buku sedunia, yuk kita awali hari ini dengan komitmen membaca buku. Mengurangi waktu berselancar di Instagram bukan sebuah dosa besar, berarti hal itu boleh ditinggalkan. Buku-buku-buku.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H