Mendengar kata "childfree", secara tidak langsung jadi teringat pelajaran Biologi dulu waktu sekolah di SLTP tentang ciri-ciri makhluk hidup. Salah satu ciri makhluk hidup itu adalah berkembang biak atau bereproduksi.
Manusia termasuk salah satu makhluk hidup. Sebab manusia berkembang biak alias bereproduksi.
Apa jadinya jika manusia tidak bereproduksi? Tentu saja manusia tidak akan bisa melakukan regenerasi. Ketika tidak bisa melakukan regenerasi, maka bisa dipastikan manusia akan punah, lenyap dari muka bumi ini.
Apa kaitannya dengan childfree? Secara langsung memang tidak ada. Tetapi childfree sesungguhnya terkait erat dengan regenerasi manusia.
Childfree alias memutuskan tidak memiliki anak adalah sebuah ide atau pilihan buruk dalam konteks regenerasi manusia. Sebab dengan memilih childfree, regenerasi akan berhenti. Paling tidak regenerasi akan berhenti pada orang yang memutuskan untuk childfree.
Jika hanya satu atau dua pasangan yang memilih untuk childfree mungkin tidak masalah. Kendati hal itu terkesan melawan kodrat sebagai manusia, sebagai makhluk hidup.
Akan tetapi kita tak akan bisa membayangkan jika semua orang di dunia ini memilih childfree. Hampir bisa dipastikan, dalam rentang 100 tahun manusia akan lenyap dari muka bumi dengan sendirinya.
Mengapa? Sebab tidak akan ada regenerasi. Sementara usia hidup manusia saat ini jarang ada yang mencapai 100 tahun.
Jadi childfree merupakan hal yang membahayakan kelangsungan hidup manusia itu sendiri jika dianut oleh semua manusia di muka bumi ini. Bahkan hal itu bisa disebut sebagai salah satu tindakan bunuh diri manusia.
Di era saat ini bagi sebagian orang childfree mungkin bukan lagi sebuah pilihan hidup, melainkan gaya hidup. Ya, childfree dianggap sebuah  sebuah lifestyle. Â
Saat ini sudah ada beberapa orang atau pasangan yang secara terang-terangan memutuskan untuk memilih childfree. Sebut saja youtuber Gita Savitri yang cukup menghebohkan dan menuai pro kontra.
Gita Savitri dan pasangannya memilih untuk childfree karena alasan kecantikan, supaya lebih awet muda. Selain itu tentu saja pilihan itu diambil demi bisa menikmati hidup sebebas-bebasnya demi kebahagiaan diri dan pasangan tanpa terbebani oleh satu makhluk hidup lain yang bernama anak. Â
Bagi mereka anak dianggap beban yang menghalangi, atau paling tidak mengurangi kebebasan. Mereka merasa tidak leluasa menikmati kebebasan hidup ketika ada makhluk bernama anak.
Padahal jika mereka berfikir, bagaimana jika orang tua mereka dulu punya fikiran yang sama? Pasti mereka tak akan pernah ada di dunia ini.
Orang yang memilih untuk childfree, secara subjektif mungkin bisa disebut sebagai orang yang egois. Mereka hanya memikirkan kesenangan dan kebahagiaan diri sendiri dan pasangan tanpa memikirkan kehidupan yang lebih luas.
Lain halnya jika pilihan childfree diambil karena alasan kesehatan pasangan perempuan misalnya. Faktor penyebabnya mungkin karena mengidap suatu penyakit sehingga tidak bisa atau tidak boleh memiliki seorang anak. Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H