Mohon tunggu...
Wiwien Wintarto
Wiwien Wintarto Mohon Tunggu... Penulis - Penulis serba ada

Penulis, sejauh ini (2024) telah menerbitkan 46 judul buku, 22 di antaranya adalah novel, terutama di PT Gramedia Pustaka Utama. Buku terbaru "Tangguh: Anak Transmigran jadi Profesor di Amerika", diterbitkan Tatakata Grafika, yang merupakan biografi Peter Suwarno, associate professor di School of International Letters and Cultures di Arizone State University, Amerika Serikat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Untuk Para Penulis, Sekarang Ada HPI!

23 Februari 2016   21:27 Diperbarui: 24 Februari 2016   01:03 615
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mengapa organisasi profesi penting bagi para penulis? Sebab banyak hal yang bisa dilakukan di luar kerja wajib para penulis dalam hal ngetik. Unsur edukasi bisa menjadi sektor terdepan, dalam hal peningkatan skill para penulis sekaligus pencarian bibit-bibit penulis berkualitas di daerah. Lalu bantuan penerbitan bagi karya-karya berkualitas yang lepas dari sorotan industri mainstream.

Dan salah satu yang terpokok adalah dalam peningkatan kesejahteraan, sehingga para penulis murni bisa hidup (makmur) lewat profesi menulis, bukan kerja sambilan “jika ada waktu senggang” sesudah kesibukan kantor terselesaikan (which is, rarely coming). Di dalamnya termasuk, seperti yang diungkap Dee dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo yang diprakarsai Bekraf pada 4 Agustus 2015 lalu, penghapusan pajak khususnya bagi royalti penulis.

Fungsi advokasi alias bantuan hukum juga menjadi salah satu bidang kerja terkemuka asosiasi. Ini terutama berguna saat para penulis (especially para newbies) bersirobok dengan penerbit-penerbit berkategori nakal. Pemotongan sepihak besaran royalti (10% jadi 5% atau di bawah itu), royalti semesteran yang tak segera dibayarkan, atau bahkan pemutusan kontrak secara sepihak hanya menjadi secuil dari lautan kasus yang dihadapi penulis.

Selama ini kasus-kasus semacam itu luput dari perhatian karena para korban lebih memilih untuk memendam rasa sakit dalam hati daripada ribut-ribut. Kalaupun mau ribut, akan ada bantuan dari siapa selain kalimat “yang sabar yaa” dan jempol tanda “like”? Adanya organisasi profesi akan benar-benar membuat perbedaan dalam hal ini.

So, para writers, ayo gabung ke HPI! Yang dekat dari Magelang dan Jogja bisa ikut mendukung tanggal 13 nanti. Mari kita tiru para wartawan yang kompak ngumpul di PWI atau para arsitek yang berorganisasi di IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) dan membuat aneka macam aktivitas positif demi kepentingan bersama dan kemajuan dunia yang kita jadikan sawah.

Dan karena seperti kata Carl Sagan di buku Cosmos, selalu ada dunia lebih luas daripada yang dapat kita saksikan.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun