Situasi kota Tanjungbalai Sumatera Utara pasca kerusuhan amuk massa yang dipicu dari protes seorang ibu rumah tangga warga turunan Cina terhadap Suara Azan yang menggunakan alat pengeras suara dari Mesjid Al-Maksum di Jalan Karya Kelurahan Bunga Tanjung Kecamatan Datuk Bandar Timur, Â Jumat malam (29/7), kini keadaannya sudah kondusip.
Warga kota Tanjungbalai terlebih bagi warga etnis turunan Cina sebagai mayoritas penduduk yang tinggal diperkotaan sudah melakukan aktifitasnya sebagaimana biasa. Toko toko dan tempat tempat jualan Sembilan Bahan Pokok (Sembako) yang dimonopoli oleh warga etnis turunan Cina, sudah kembali membuka tempat tempat usahanya. Namun pengawalan dari pihak aparat keamanan, yang terdiri dari Polisi,  Brimob, TNI AD dan TNI Al, masih tetap berjaga jaga di Inti perkotaan. Kapolda Sumatera Utara Irjend Pol  Drs. Raden Budi Winarno Atas Perintah Kapolri Jendral Pol Tito Carnavian yang turun ke Medan Sumatera Utara, juga sudah turun kekota Tanjungbalai untuk melakukan pertemuan dengan para tokoh tokoh agama yang ada di kota Tanjungbalai.
Namun walaupun kota Tanjungbalai, yang sempat mengalami kerusuhan, komplik agama, dimana massa membakari rumah rumah ibadah yang tidak bermenara, berupa kelenteng dan vihara yang ada di Tanjungbalai, sudah dalam keadaan aman dan terkendali. Akan tetapi masih ada pihak pihak tertentu yang tidak menginginkan kota Tanjungbalai aman dan tenteram.
Hal itu dibuktikan adanya selebaran selebaran gelap, yang isinya menyudutkan ummat islam kota Tanjungbalai. Dan kemudian banyaknya acun acun palsu didunia maya bermunculan, kalaupun itu memang palsu dengan fostingan yang mencaci maki warga pribumi yang beragama islam.
Seperti acun Fecebook yang mengatas namakan  Mikail Chenz. Akun tersebut memfostong komentar komentar yang mencaci ummad islam dan warga pribumi, dengan menggunakan bahasa bahasa yang jorok dan tidak layak untuk dibaca oleh umum. Seperti  fostingan acun Mikail Chengz dibawah ini.
Jika merunut dari kejadian amuk massa itu, pada malam itu juga keluarga Meilani (44) sebagai pemicu terjadinya amuk massa di Tanjungbalai, telah diamankan oleh pihak Polresta Tanjungbalai. Sementara fostingan acun Mikail Cenz di Fecebook yang disebutkan oleh acun Akiong Han Hanko putra dari Meilani sebagai pemicu kerusuhan muncul sehari setelah kejadian. Artinya pada saat fostingan itu muncul pemilik acun  Mikail Chenz yang berisi penghinaan terhadap ummad islam dan masyarakat pribumi, sipemilik acun (jika itu memang milik putra dari wanita yang bernama Meilani) yang bersangkutan sedang berada dalam pengamanan pihak Polresta Tanjungbalai.
Kita tidak boleh bersifat suuzon terhadap yang bersangkutan. Walaupun seandainya bahwa fostingan acun Mikail Chenz itu dipostingnya dari dalam kantor Polresta Tanjungbalai, karena bagaimanapun, mereka walau dalam pengamanan pihak Polresta Tanjungbalai tentu masih dapat untuk menggunakan telefhon selularnya.
Untuk membuktikan semua ini, agar persoalan fostingan acun Mikail Chenz di dunia maya Fecebook, tidak menjadi pitnah baginya, dan tidak pula menjadi pemicu terjadinya amuk massa kembali di Tanjungbalai, diperlukan sikap bijak dan arif dari pihak aparat keamanan khusunya Polisi untuk menyikapi hal ini. Dengan segala peralatan dan perangkat yang ada dimiliki oleh Polri, rasanya tidaklah sulit untuk mencari tahu siapa pemilik acun Mikail Cenz dan acun Akiong Han Hanko yang sebenarnya.
Jika seanadainya acun Mikail Chenz yang beralih nama menjadi acun Agustino Dodi, benar adalah putra Meilani selaku pemicu terjadinya amuk massa di Tanjungbalai itu, hendaknya Pihak Polri melakukan tindakan tegas terhadap yang bersangkutan yang telah melakukan fostingan yang sipatnya menghina Islam dan masyarakat Pribumi.