Lontar 3
Dimata  Prometheus yang waskita
Diantara manusia yang berperang antara gelap dan terang
Antara baik dan jahat
Yang terseok jatuh dan terbangun
Tak ada kekuatan para dewa disana
Yang ada hanya air mata dan tawa
Yang berjuang mempertahankan hidup dari amukan kematian
Yang mencoba tertawa saat air mata dekat dipelupuk mata
Dalam kesabaran dan harapan
Pada akhirnya mereka melebihi keganasan sang Titan
Pahlawan yang mengerti apa arti cinta
Setelah mengalahkan dendam dan kebencian
Pahlawan yang menghadapi segala ketakutannya dengan gagah berani
Pahlawan yang tetap melangkah , dan menyerahkan segala ragu dalam iman yang teguh
Pahlawan yang memegang erat kebenaran
Setelah menundukan dusta dan kejahatan
Dan Pahlawan yang mengerti sulitnya melawan diri sendiri
Dan pada akhirnya memenangkannya, meski terjatuh dan kalah berkali kali
Siapa yang mampu melebihi kedasyatannya ?
Tidak para dewa, tidak juga senjata sesakti apapun itu, tidak juga baju zirah dan perisai.
Lontar 4, Â
Lontar 5,Â
Lontar 6
Setiap hari ada lontar yang tercabik dari hatinya, digigit Elang, dan diterbangkan angin senja.
Terikat pada Batu, dengan Rantai besi buatan Hephaestus yang kerasnya melebihi baja, Sang Prometeus  tak lagi merasakan sakitnya patukan Sang Elang. Dimatanya sudah terukir wajah sang Pahlawan. Disana ada dia  yang mampu memegang bara, tanpa terbakar oleh panasnya amarah. Dia yang menerima kesulitan dengan tabah dan sabar, yang menerima hinaan tanpa amarah dan dendam. Dan Dia yang tetap menunjukan kebajikan dan cinta, bahkan saat kebajikan itu tak layak bagi penerimanya.
Di tebing penderitaan, ada senyum terukir di bibir Prometeus , yang membuat Sang Zeus terbakar amarah dalam istananya yang megah.