Di bawah pohon rindang ibu hajah dan suaminya berjualan soto setiap hari. Mereka adalah para pekerja keras yang tahan banting menjemput rezekinya. Terkadang harus pandai bermain kucing-kucingan agar gerobak soto ayam tidak dibawa oleh petugas satpol PP DKI Jakarta.Â
Di sepanjang trotoar jalan pemuda inilah mereka menjemput rezeki dengan berjualan soto. Tak ada pilihan lain selain bertahan untuk tetap berjualan di pinggir jalan. Sebab di tempat itulah ramai pembelinya.
Soto ayamnya memang enak dan murah. Pantesan banyak orang yang suka datang ke tempat ini. Dari yang pakai mobil sambil pejalan kaki, biasanya mereka menyempatkan diri untuk makan siang santai di tempat yang ber-AC. Angin sepoi-sepoi eh cepoi-cepoi.
Omjay sempat bertanya kepada Bu Hajjah. Kalau mau pesan seratus porsi dikasih harga berapa? Bu Hajah memberikan potongan harga. Kalau untuk Omjay satu setengah juta boleh. Omjay punya niat untuk mentraktir kawan-kawan pembaca Kompasiana untuk mencicipi sotonya. He-he-he.
Sewaktu hari kemerdekaan RI kemarin, pak Dadang kepala sekretariat Labschool memesan sotonya. Sehabis upacara bendera kami semua ditraktir pak Dadang makan soto ayam. Banyak yang antri untuk menikmati soto ayamnya yang lezat.
Siang ini Omjay belajar bisnis kepada tukang soto ayam. Begitu banyak peluang di depan mata untuk berdagang makanan dan minuman. Tinggal kita kreatif dan mau berusaha untuk memulai bisnis yang halal ini.
Tadi Omjay sempat bercanda sama Bu Hajjah penjual soto. Bisakah kita bertukar nasib barang sehari? Bu Hajjah jadi guru informatika dan Omjay menjadi tukang soto ayam keliling. Bu Hajjah langsung tertawa ngakak ala orang Madura.Â
Katanya lebih susah jadi guru daripada penjual soto ayam. Kamipun ikut tertawa lepas sambil menikmati soto ayam yang lezat. Siang itu, Omjay diberi bonus ceker ayam dan kepala ayam. Katanya biar cepat jadi kepala sekolah Labschool, hahaha. Ibu Hajah bisa aja!