Dengan ini pasien bisa menghemat uangnya karena gigi palsu yang akan dibuat lebih bertahan untuk jangka waktu yang lama, dan dengan diagnosis dini dari penyakit diabetes, maka pasien juga bisa menghemat uang pengobatan, dibandingkan nanti ketahuan diabetesnya ketika sudah parah dan disertai dengan komplikasi ke berbagai organ tubuh lain, seperti jantung dan ginjal. Dengan pengobatan penyakit secara dini juga pasien masih bisa produktif dalam pekerjaannya sehingga tidak ada dampak ekonomi yang akan timbul pada keluarganya.Â
Jadi logikanya saya membantu pasien tersebut bukan? Ternyata memang sesuai dengan yang dikatakan dalam pelajaran design thingking.
Pasien ini tidak mau memeriksakan kadar gula darahnya, dan pindah ke dokter gigi lain yang mau membuatkan gigi palsunya langsung tanpa bertanya ribet dan pemeriksaan lab seperti yang saya lakukan.
Kebutuhan dokter memang harus sejalan dengan kemauan dan kebutuhan masyarakat, kemauan pasar emang mendikte karakter dokter yang ada. Tapi apakah bisa dibenarkan? Menurut saya bukankah dokter yang membuatkan gigi palsu pasien saya itu bukan dokter yang baik, dan tidak memikirkan kondisi pasien secara jangka panjang? Maka saya berpikir, saya lebih baik menjadi dokter yang tidak populer dengan keribetan yang saya buat kepada pasien saya daripada saya mengiyakan apa maunya pasien tapi sebetulnya merugikan pasien.
Bagaimana menurut Anda? Bagaimana dokter yang sebetulnya Anda butuhkan?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H