Mohon tunggu...
Slamet Widodo
Slamet Widodo Mohon Tunggu... Guru - Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro

Menulis itu Mencerdaskan. Jika Anda ingin cerdas, menulislah! Tidak percaya? Cobalah!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengapa Namaku Slamet?

24 Maret 2018   08:43 Diperbarui: 24 Maret 2018   09:03 646
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto diambil di gedung Rektorat UNESA Surabaya, pada acara Kopdar V SPN, 22 Oktober 2017

Dulu, sewaktu saya masih kelas 4 SD saya merasa tidak percaya diri (PD) dengan nama yang saya miliki. Saat itu, saya diejek oleh teman-teman saya,  kerena nama saya jelek. Nama kok Slamet, ejek teman saya. Dalam benak saya juga berfikir, iya, ya... nama kok Slamet. Sebuah nama yang kampungan. Ndeso. Yang artinya juga jelek. Saat itu juga saya ingin nangis dan berontak. Kenapa saya dikasih nama Slamet. Kayak enggak ada nama saja.

Sepulang dari main dengan teman-teman. Saya langsung tanya dan protes kepada orang tua. Saat itu, yang saya tanya Mbah Dok (Nenek) dan Bapak.

Dengan arif dan sabar, Mbah Dok menjelaskan kepada saya. Sejarah kenapa saya diberi hadiah nama Slamet.

Kala itu, 36 tahun yang lalu, saat ibu melahirkan saya. Melahirkannya cukup di rumah. --Waktu itu, di desa belum ada klinik kesehatan. Puskesmas pun jauh. Belum ada transportasi seperti sekarang ini.-- Ibu mengalami pendarahan hebat. Dan sulit melahirkan. Ibu saya hampir meninggal. Bahkan sudah mati suri beberapa jam. Sehingga semua keluargaku panik. Tangis pun pecah.

Mbah Dok saya berdoa kepada Allah untuk keselamatan ibu dan saya. Beliau bilang, "Jika anak dan cucuku selamat. Maka cucuku saya kasih nama Slamet."

Alhamdulillah dengan ijin Allah ibu dan saya diberi keselamatan oleh Allah. Dan benar, nenek saya memenuhi nadzarnya. Akhirnya saya diberi nama Slamet.

Kemudian, bapakku menambahi nama di belakang nama Slamet dengan satu suku kata. Menjadi Slamet Widodo. Yang keduanya mempunyai makna yang sama. Kata Slamet Widodo sama artinya dengan Rahayu, Wilujeng.  

Saya dikudang oleh orang tua saya. Agar saya bisa slamet dunia dan akhirat. Selain itu bisa menjadi manusia yang bermanfaat, katanya.

Saat itu, meski sudah dijelaskan panjang lebar oleh nenek dan Bapak. Saya masih belum bisa menerima sepenuhnya. Saya menilai bahwa orang tua saya salah dalam memberi nama Slamet kepada saya. Saya sudah kadung malu kepada teman-teman.

Seiring berjalannya waktu. Mulai kelas 4 saya sudah ikut ngaji bersama teman-teman di masjid. Waktu ngajinya habis maghrib. Diajar oleh Pak Takmir masjid, kami memanggilnya Pak Yai. Juga dibantu oleh bapak-bapak yang rumahnya dekat masjid.

Ustadznya tidak dibayar seperti sekarang ini. Tapi beliau-beliau ihlas membimbing saya dan teman-teman. Selesai ngaji, saya diminta ustadz untuk idek-idek (memijit menggunakan kaki) beliau. Saya manut.

Saya masih ingat betul. Waktu itu belum ada listrik. Untuk penerangan di masjid menggunakan lampu gaspon. Lampu yang bahan bakarnya minyak tanah. Saya dan teman-teman diminta patungan untuk membeli minyak tanah. Jadi, bayar ngajinya ya cukup patungan itu.

Tamat dari SD, saya melanjutkan sekolah di MTs BU Kepohbaru. Sekolah swasta. Tempatnya di kota kecamatan Kepohbaru. Jarak dari rumah saya lima kilo meter.

Waktu itu, teman seusia saya, yang melanjutkan ke MTs hanya saya dan seorang teman saya, perempuan. Sementara kakak kelas saya masing-masing tingkat juga hanya ada dua orang. Jadi total enam orang.

Sekolahnya masuk sore. Mulai jam 12.30 dan pulang jam 17.00. Untuk transportasi ke sekolah, saya dan teman-teman manggunakan sepeda ontel. Jika musim hujan, jalannya pasti becek dan tidak bisa dilewati sepeda. Kami memilih jalan kaki bareng-bareng untuk berangkat.

Seragam sekolahnya bajunya putih dan celananya abu-abu. Masih menggunakan celana pendek. Jadi setiap hari membawa sarung digunakan untuk sholat ashar berjamaah di masjid saat istirahan sekolah.

Setelah dewasa, saya baru bisa merasakan. Ternyata nama Slamet Widodo benar-benar membawa barokah.

Ditambah lagi, setelah saya membuat akun facebook, oleh seseorang yang memiliki akun dengan nama Slamet Widodo, saya dimasukkan ke sebuah grup dengan nama "SLAMET WIDODO". Grup itu menampung orang-orang se Indonesia yang memiliki nama Slamet Widodo. Ternyata jumlahnya ratusan. Alhamdulillah...

Dengan begitu, sekarang saya semakin percaya diri dan bersyukur kepada Allah diberi nama Slamet Widodo oleh orang tua saya. Saya tidak dibekali banyak harta oleh orang tua saya. Cukup setetes ilmu saja. Dan prinsip hidup saya, ingin menjadi sebaik-baik manusia. Seperti sabda Rasulullah saw. "Khoirunnaas anfauhum linnaas."

Alhamdulillah...

Allah mengijabah semua doa-doa orang tua saya.

Kedungsari, Kepoh

3 Juli 2017

(Nama adalah doa)

Oleh : Slamet Widodo

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun