Mohon tunggu...
Weslly Johannes
Weslly Johannes Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

a soul poet

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Jika Semua Perempuan Mati

25 Oktober 2013   20:54 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:02 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika semua perempuan mati, maka bocah-bocah itu adalah angkatan terakhir yang terlahirkan ke dalam kumpulan para peratap.
Rumah-rumah tak lagi dirindukan.
Kemalangan menghalau semua orang dari kota-kota sehingga, sebagai suami dan ayah yang terakhir, engkau akan membangun kemah di antara makam istri dan anak perempuanmu yang terakhir.

Pada bangku-bangku kosong rumah-rumah ibadah, para padri menyandarkan badan.
Sepi yang dibenci memaksa mereka membawa keluar kitab-kitab suci ke jalan-jalan raya.
Sambil menangis mereka membaca kisah firdaus berulang-ulang hingga rusaklah setiap lembar cerita yang menuliskan perempuan sebagai penyebab dosa.

Di ujung jalan seorang biduan rebah ke tanah mengenang ibunya.
Senar-senar gitar sudah putus dimakan karat sedangkan kulit-kulit tifa menjadi begitu lentur.
Setiap orang yang datang menabuhnya akan mendapati sunyi.
Sia-sialah syair dan melodi.

Pohon yang terakhir itu telah tumbang demi peti-peti mati
dan semua gambaran masa depan adalah tentang pemakaman yang tanpa upacara.
Tiada seorang pun datang membawa karangan bunga.

Semua berita adalah duka saat kata-kata hanya mampu tumpah sebagai airmata.
Maka punahlah bahasa sebab lidah semua manusia hanya sanggup mengucapkan tangisan.

Jika semua perempuan mati dan aku adalah penyair terakhir, maka pena akan kupatahkan.
Barangkali pada sisa-sisa nafas yang rindu pulang akan kutitipkan permintaan kepada tuhan untuk sekali lagi menciptakan seorang hawa.
Apabila ia berkenan, maka di bawah kakinya aku akan bersimpuh dan memohon:
“Tuhan, ambillah jantungku! Jangan tulang rusukku!”
Supaya angkatan-angkatan yang lahir kemudian akan menuliskan di atas halaman-halaman baru, cerita tentang hawa yang diciptakan dari jantungku;
dialah muasal cinta, rahim kehidupan.

Ambon, Maluku, Indonesia
27 September 2013
Kepada dua misteri yang mengagumkan: perempuan & kematian.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun