Assalamu’alaikum, pembaca Kompasiana yang yang cantik, ganteng nan saleh-salihah, di mana pun berada dan apa pun aktivitasnya. Semangat pagi, semoga selalu keadaan sehat, ya.
Semangat menyediakan waktu untuk membaca hingga tuntas. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman ketika mendapat vaksin AstraZeneca untuk pencegahan Covid-19.
Saya yang berprofesi sebagai guru madrasah di lingkup Kemenag Tuban, Jawa Timur, kemarin siang sudah mendapatkan vaksin dosis 2, yaitu vaksin AstraZeneca. Vaksin yang jarak pemberiannya sekitar 8-12 minggu. Meski memiliki banyak perbedaan dengan vaksin Sinovac, bukan berarti ada yang lebih bagus? Semuanya bagus, dan kedua vaksin tersebut sudah terbukti menunjukkan efektivitas dalam melawan infeksi virus Corona COVID-19.
Alhamdulillah, ketika mendapatkan vaksin AstraZeneca dosis 1 dan 2, saya hanya merasakan sedikit nyeri di lokasi suntikan, yang mana sebagian teman lainnya waktu pemberian dosis 1 ada yang mengalami demam dan pusing. Hal ini mungkin dikarenakan imun tubuh yang berbeda setiap orang. Namun, itu tidak berangsur lama, paling sekitar 1-2 hari sudah membaik.
Ketika jadwal pemberian vaksin yang pertama, tubuh saya dalam kondisi tidak vit, lemas, dan berkeringat dingin. Hal ini disebabkan menstruasi hari pertama. Saya pun tetap berangkat ke puskesmas dengan diantar suami naik motor. Setelah dicek kesehatan dan konsultasi sama dokter, saya memutuskan untuk menunda jadwal pemberian vaksin.
Sebenarnya hasil cek dokter normal, tetapi yang lebih tahu keadaan kan saya sendiri, yang merasakan bagaimana keadaan tubuh saya saat itu. Nanti kalau memaksakan diri, setelah divaksin tiba-tiba saya pingsan, bagaimana? Hal ini yang memutuskan saya untuk menunda satu hari jadwal vaksin yang seharusnya tanggal 31 Mei 2021 menjadi 2 Juni 2021.
Dalam pemberian vaksin, pasti ada yang merasa takut, dredeg, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan saya. Ketika vaksin dosis 1, saya juga merasakan hal tersebut. Namun, perasaan itu cuma muncul sekilas karena saya merasa sudah siap untuk divaksin, dan ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar.

Berbeda dengan pemberian vaksin dosis 2 kemarin siang, yang mana saya merasa kaget kalau kemarin jadwal dosis ke-2 untuk vaksin AstraZeneca. Bagaimana tidak kaget? Lawong di kartu vaksin tertera pemberian dosis 2 pada tanggal 2 September 2021, sedangkan kemarin baru tanggal 25 Agustus, masih 1 minggu lagi.
Setelah mendapat pesan WhatsApp dari Bu Bidan tentang jadwal vaksin kemarin, saya pun minta diantarkan suami ke puskesmas. Sebelum berangkat, saya jemput si kecil yang lagi main di rumah temannya. Mau tak ajak, tapi dianya tidak mau. Akhirnya ngobrol sebentar sama Mbak Ulva, ibu dari temannya si kecil.
“Mbak, sampean wis budal vaksin? Iki aku lagi arep budal,” tanyaku kepada Mbak Ulva.
“Wis, Mi. Dang budal saiki, mumpung wis sepi,” jawabnya singkat. Lalu ia bertanya, “Wis maem opo durung sampean, Mi?”
“Durung, Mbak. Cuma ngemil thok mau,” ucapku gugup.
“Aku lagi oleh ter-teran, Mi. Maem sek kono! Sakdurunge vaksin kui kudu maem disek,” jawabnya sambil membuka tutup hidangan di atas meja makan.
Rezeki mah jangan ditolak. Sebelum vaksin, saya pun makan dulu di rumah teman, he-he.
Kemudian, saya berangkat ke puskesmas diantar suami naik motor. Padahal jarak rumah dengan puskesmas dekat, teman yang lain pun tidak ada yang dianterin. Namun, saya minta dianterin, biar aman. Atau memang karena saya yang manja, ya? Setiap vaksin selalu minta dianterin mulu, he-he.
Di puskesmas, saya pun masih merasa dredeg. Bahkan tensi darah naik ketika cek kesehatan. Biasanya tidak lebih dari 120/80, kemarin menjadi 131/85.
Berhubung sudah sepi, saya pun minta waktu sebentar sama petugas biar rileks. Mengambil udara dari hidung dan mengeluarkannya lewat mulut adalah cara yang saya lakukan. Selang beberapa menit, akhirnya saya siap divaksin untuk yang kedua kalinya.
Alhamdulillah, efeknya sama seperti dosis pertama. Yaitu, terasa sedikit nyeri di lokasi suntikan, dan hari ini pun masih terasa sedikit nyeri, tapi nggak papa, nggak sakit kok.
Demikian pembaca Kompasiana yang budiman. Semoga berbagi pengalaman melalui tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Bagaimana dengan pengalaman kalian?
Untuk yang belum divaksin, jangan takut, ya. Rasanya beda tipis dengan digigit semut, kok. Lebih sakit ketika ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, hu-hu-hu.
Semangat!!!
Salam sehat, bahagia selalu.
***
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI