Malam mengendap-endap
Mencuri dengar percakapan pada sebuah bilik
Sejak waktu menjadikannya berjarak, berharap
Sapa halus dari pemilik bilik
(Sebuah kalimat menuding penuh cekat. Sisanya hanyalah isak yang berat)
Malam terhardik
Ia tak pernah demikian terkaget oleh wanita penyabar berkain panjang
Ia selalu mengira wanita berkain panjang pastilah penyabar
Tengok saja bagaimana ia melilit kain
Memindahsilangkan kaki berjalan kecil-kecil
Bukankah ia seorang yang tabah?
Â
Udara utusan malam melongok sedu sedannya
Menjulur kerling terhadap napasnya engah;
Sepenuhnya khawatir
Seorang diri memunguti perasaanÂ
yang tercecer dari limpasan air mata
Â
Melihatnya simpuh di atas sajadah
Rindu buncah kejut pun sulih
Malam kembali mendekat, mendekap;
Aku tak pernah salah memilih
Jogja, 17 Maret 2024 | Wening Yuniasri
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI