malam takbiran tahun ini
agak sepi dan sunyi
entah mengapa
suara beduk yang biasanya bertalu-talu
menandai berakhirnya ramadhan suci nyaris tiada terdengar
suara petasan dan
cahaya kembang api
takada lagi
tenggelam oleh berita sekat mudik, pandemi melanda india,
aksi biadab teroris
membunuhnumat takberdosa
di poso sulawesi tengah
para sahabat banyak diskusi
tentang penyekat-penyekat
penghalau pemudik,
tentang larangan open house, bukber, ziarah
semua memaklumi realitas itu
agar pandemi tidak makin ganas
membunuhi
warga bangsa
pagi ini
dalam sunyi yang mendekap hangat
terasa hari raya idul fitri hadir
membelah sejarah
ketupat lebaran, semur, rendang
tape uli
telah tersedia di rumah-rumah warga
tanda syukur dan sukacita
menyambut satu syawal
seluruh warga bangsa meniti hari suci, hari nan fitri
dengan sepenuh hati
idulfitri tetap hari kemenangan
idulfitri tetap hari
 penuh barokah
kesucian dan kesukacitaan idulfitri takpernah bisa tergeser oleh pandemi atau oleh
kuasa apapun
 idulfitri adalah momentum untuk
beramal dan berzakat
berbagi rezeki dengan mereka yang takmampu
dipagi ceria
di kawasan zona hijau
dalam sholat id
di sebuah mesjid
umat serempak melafaz kata :
"Allah Akbar
Allah Akbar
Allah Akbar
Wa lillahilhamdu!"
Weinata Sairin
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H