"Words can be ireasonable as well as deeds" ~ Baruch Spinoza
Manusia hidup dalam penguasaan "kata". Kata-kata telah menjadikan manusia itu seorang manusia sejati. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang memiliki tanggung jawab.
Ia bukan figur yang diam, bisu dan abai terhadap berbagai hal yang hadir di sekitarnya. Ia menjawab. Ia merespons. Ia bereaksi cepat dan tepat. Kita sulit untuk percaya terhadap seseorang  yang tidak pernah merespons (pertanyaan) kita sesudah 48 jam tatkala hal yang ditanyakan sudah berubah menjadi persoalan.
Manusia adalah pemilik kata-kata. Dr. Lindert Oranje (alm), dosen Filsafat di  Sekolah Tinggi Teologi Jakarta tahun 60-an, membedah dengan lugas  dan cerdas makna kata dalam perspektif Wittgenstein atau Ayer bahwa kata adalah ekspresi kedirian manusia dan kerancuan kata/ kalimat adalah  cermin kerancuan berpikir manusia.
Sehari-hari manusia diperintah dan dikendalikan oleh "kata". Sebuah kegaduhan nasional atau perpecahan bangsa bisa dimungkinkan terjadi jika seseorang tak piawai  atau salah menggunakan "kata".  Manusia mewujud dalam "kata", manuasia menampilkan diri dalam "kata". Â
Vaclac Havel menyatakan pemikirannya tentang  "kata". Ia mengkritik  dengan keras sikap penguasa yang memaksakan "kata" kepada rakyat. Komandoisme, kata Havel, tidak memiliki makna bagi kehidupan suatu negara. Pemaksaaan suatu kata oleh penguasa kepada rakyatnya justru membelenggu dan memperbodoh mereka. Kata memiliki kekuatan tertentu dalam sebauh zaman, apalagi tatkala "kata" menjadi produk dari sebuah rezim.
Kita paham apa makna kata "diamankan", "petrus", "disukabumikan" atau "Kopkamtib" yang menorehkan pengalaman traumatik di zaman-zaman yang telah lalu. Sebagai umat beragama, kita diwarisi kata-kata yang cerdas dan bernas dari kitab suci agama kita yang berisi tuntunan hidup yang baik untuk dunia dan akhirat.Â
Mengingat bahwa "kata" selalu memiliki makna yang beragam, maka kata-kata dalam ketentuan peraturan perundang-undangan  dan dokumen resmi mesti clear, tepat, dan tidak menimbulkan  multitafsir. Pepatah  di atas ingin mengingatkan bahwa "kata" seperti juga perbuatan, bisa berkhianat!  Mari menyeru kata sejuk menakjubkan penuh kebijaksanaan.
Dalam konteks pemaknaan kata,menarik untuk dicatat pernyataan Menteri Agama yang baru, yang berucap bahwa ia dalam menjalankan tugas pelayanannya akan menjadikan agama sebagai Inspirasi dan bukan Aspirasi.
Pernyataan ini tidak hanya menampilkan kepiawaian pak Menag dalam menggunakan kata, tapi didalamnya menyentuh sebuah policy keagamaan yang mendasar, yang pada gilirannya bisa ikut memperkuat bangunan NKRI yang majemuk, yang berdasarkan Pancasila.
Memang ada perbedaan makna yang signifikan antara kata "inspirasi" dan "aspirasi". Jika kita mengacu kepada kamus bahasa Indonesia, kata "inspirasi" bermakna "ilham"sedangkan kata "aspirasi" diberi makna "harapan dan tujuan untuk keberhasilan masa depan".Â
Berangkat dari pemaknaan itu jika agama(agama-agama) menjadi inspirasi maka nilai-nilai universal yang dimiliki agama bisa dikontribusikan bagi kehidupan bangsa dan negara. Andai agama menjadi aspirasi maka ajaran agama/teologi agama diadopsi menjadi sebuah peraturan dalam kehidupan membangsa dan menegara. Kondisi seperti ini cukup sulit oleh karena ada berbagai agama yang dianut oleh warga bangsa.
Pernyataan pak Menag ini amat fundamental dan amat mendukung terpeliharanya dan lestarinya NKRI yang majemuk.
Kemuliaan manusia dapat dilihat antara lain tatkala ia menggunakan kata. Diksi yang elegan, kosakata standar dan baku yang ia gunakan mencerminkan kesiapaan dirinya.
Dalam menyambut hari raya agama, dan menyongsong Tahun Baru mari kita menebar kata-kata elegan demi memperkuat talisilaturahim dalam NKRI yang majemuk.
Selamat Berjuang. God Bless.
Weinata Sairin, 23 Desember 2020
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI