Peran dosen di perguruan tinggi vokasi dipengaruhi oleh teori pendidikan dan pandangan dari berbagai pakar pendidikan baik di dalam maupun luar negeri. Dalam banyak kajian, terdapat konsensus bahwa profesionalisme dosen vokasi sangat diperlukan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dan memiliki kompetensi sesuai dengan standar industri.
Teori pendidikan vokasi menekankan pentingnya pembelajaran yang berfokus pada pengembangan keterampilan, pengetahuan praktis, dan adaptabilitas terhadap perubahan industri. Teori belajar kontekstual (contextual learning), yang dikemukakan oleh ahli pendidikan seperti John Dewey, menyoroti bahwa pembelajaran menjadi lebih efektif ketika terkait langsung dengan pengalaman dunia nyata. Dalam konteks pendidikan vokasi, dosen harus mampu menghubungkan teori dengan aplikasi di dunia kerja, sehingga mahasiswa dapat memahami relevansi pembelajaran dengan situasi yang akan mereka hadapi di tempat kerja.
Pakar seperti David Kolb dengan model pembelajaran eksperimentalnya juga menyatakan bahwa keterampilan terbentuk melalui siklus pengalaman langsung, refleksi, konseptualisasi, dan penerapan. Berdasarkan teori ini, dosen vokasi dituntut untuk menciptakan pengalaman belajar yang berputar di sekitar praktik nyata dan eksperimen, yang akan membantu mahasiswa menginternalisasi keterampilan melalui pengalaman. Hal ini sangat relevan untuk pendidikan vokasi, yang lebih menekankan praktik langsung sebagai bagian utama dari kurikulum.
Bloom's Taxonomy juga menjadi acuan penting dalam pendidikan vokasi, terutama untuk tujuan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dosen vokasi diharapkan mampu merancang pembelajaran yang menumbuhkan keterampilan ini secara seimbang, terutama kemampuan psikomotorik yang sangat penting di lingkungan kerja.
Di Indonesia, pakar pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya pendidikan sebagai sarana mempersiapkan generasi penerus yang berdaya guna dan mandiri. Dalam konteks pendidikan vokasi, filosofi ini berarti dosen perlu mendidik mahasiswa agar mampu berdiri sendiri di dunia kerja dengan keterampilan yang mumpuni. Dosen vokasi diharapkan tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis tetapi juga mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian pada mahasiswa.
Prof. Dr. Azyumardi Azra, seorang pakar pendidikan tinggi di Indonesia, menekankan bahwa profesionalisme dosen adalah kunci utama dalam menciptakan lulusan yang berkualitas. Ia berpendapat bahwa dosen harus memiliki kualifikasi yang memadai, pengalaman di bidangnya, serta terus mengembangkan diri agar mampu menyampaikan materi yang relevan dengan kebutuhan industri. Menurutnya, dosen yang profesional di perguruan tinggi vokasi tidak hanya bertanggung jawab dalam pengajaran tetapi juga harus terlibat dalam penelitian terapan yang dapat memberikan solusi bagi industri dan masyarakat.
Selain itu, Prof. Dr. Arief Rachman, seorang pakar pendidikan Indonesia, juga menyatakan bahwa dosen vokasi perlu memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan dengan dunia industri. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa kurikulum yang diajarkan tetap relevan dengan perkembangan kebutuhan kerja. Menurutnya, dosen yang efektif adalah mereka yang bisa menjadi penghubung antara teori dan aplikasi di lapangan, sehingga lulusan yang dihasilkan mampu berkontribusi langsung di dunia kerja.
Di tingkat internasional, negara-negara seperti Jerman dan Swiss dikenal dengan sistem pendidikan vokasi yang kuat. Harold Dent, seorang ahli pendidikan dari Eropa, berpendapat bahwa dosen vokasi harus memiliki pengalaman langsung di industri agar dapat memberikan pelatihan yang relevan dan aplikatif. Menurutnya, keterlibatan dosen dalam kegiatan industri dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang kebutuhan keterampilan terkini, sehingga mereka dapat membimbing mahasiswa dengan lebih baik.
Michael Eraut, seorang pakar dari Inggris, menekankan konsep "work-based learning" dalam pendidikan vokasi, yang menggabungkan pembelajaran formal dan pengalaman kerja. Dalam pandangan Eraut, dosen vokasi harus berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan mahasiswa belajar dari pengalaman kerja nyata melalui program magang, proyek kolaborasi dengan industri, atau praktik kerja di lapangan. Pendekatan ini memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung yang sangat diperlukan dalam dunia kerja.
Menurut Anthony Carnevale, direktur Georgetown University Center on Education and the Workforce, pendidikan vokasi harus dipandu oleh instruktur yang memiliki pemahaman mendalam tentang keterampilan yang dibutuhkan di pasar tenaga kerja. Ia menekankan bahwa dosen vokasi di abad ke-21 perlu memiliki kemampuan untuk terus beradaptasi dengan perubahan industri, terutama dengan pesatnya perkembangan teknologi. Carnevale menyoroti bahwa dosen perlu menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner) yang mampu menyesuaikan materi pembelajaran dengan tren teknologi terkini, sehingga mahasiswa tetap relevan di dunia kerja yang terus berubah.
Pentingnya profesionalisme dosen dalam pendidikan vokasi tidak terlepas dari berbagai tantangan, seperti tuntutan untuk terus memperbarui keterampilan, mengikuti perubahan teknologi, serta menjalin kemitraan dengan industri. Di negara maju, standar profesionalisme dosen vokasi mencakup keterlibatan dalam proyek riset terapan, pelatihan di industri, dan sertifikasi kompetensi. Menurut banyak pakar, standar ini juga penting bagi dosen vokasi di Indonesia untuk menjaga relevansi pengajaran.