Walau demikian saya menempelkan 3 lembar kertas berisi pemberitahuan isoman dan petunjuk agar semua paket, belanja atau hantaran cukup diletakkan di atas pagar.Â
Saya tidak ingin ada orang dari luar melewati pagar, apalagi sampai menjejak teras. Bukan sombong, tapi demi kebaikan bersama.Â
Meski setiap pagi saya membersihkan teras, tapi status saya sebagai orang yang positif Covid-19 sangat mungkin meninggalkan kontaminan di beberapa bagian rumah.
Oleh karena itu, saya was-was ketika mengetahui seseorang melangkah menuju teras dan meletakkan sesuatu di sana. Saya sering terlambat menyadari kedatangannya.Â
Apalagi ia tak pernah memanggil nama saya atau memberi tahu bahwa ia meletakkan sesuatu di teras. Akan tetapi akhirnya ia tak lagi menjadi misterius.Â
Ketika suatu sore ia kembali datang dan membuka pintu pagar, saya bisa mengenali wajahnya yang tertutup masker dan ia pun membenarkannya.
Kurir Paket Menyelonong Masuk
Kejadian seseorang membuka pintu pagar dan menyelonong sampai ke teras juga melibatkan seorang kurir pengantar paket.Â
Pada hari-hari pertama isoman saya memang memutuskan untuk membeli beberapa kebutuhan secara daring. Melalui e-commerce saya membeli oxymeter, alkohol, hand sanitizer, disinfectant, obat batuk, dan madu.
Selain itu, beberapa kenalan dan kerabat di luar kota juga menawarkan bantuan. Ada yang mengirimkan suplemen. Ada pula yang menawarkan vitamin D dosis tinggi dan lain sebagainya.
Suatu ketika seorang kurir SiCep** datang menjelang tengah hari. Awalnya dari luar pagar ia memberi tahu ada paket untuk saya.Â
Oleh karena sedang beristirahat saya putuskan untuk tidak menemuinya. Saya berpikir bahwa tulisan yang tertempel di pagar akan dimengerti oleh siapapun yang membacanya.