Mohon tunggu...
Hendra Wardhana
Hendra Wardhana Mohon Tunggu... Administrasi - soulmateKAHITNA

Anggrek Indonesia & KAHITNA | Kompasiana Award 2014 Kategori Berita | www.hendrawardhana.com | wardhana.hendra@yahoo.com | @_hendrawardhana

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Orang Miskin Dilarang Jajan di Malioboro?

28 Mei 2021   13:21 Diperbarui: 28 Mei 2021   13:28 1120
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menggugat wisatawan atau dilarang mengeluh? | foto: tangkapan layar kompas.com

Seorang wisatawan belum lama ini membagikan pengalaman kulinernya di Yogyakarta. Lewat media sosial ia mengeluhkan harga pecel lele yang sangat mahal di Malioboro. Dianggap merugikan reputasi Malioboro dan PKL di tempat tersebut, Paguyuban Lesehan Malioboro berencana menuntut sang wisatawan. Sebab kejadiannya dianggap bukan di Malioboro, tapi di "sirip Malioboro". Penjualnya juga belum menjadi anggota paguyuban.

Sebenarnya sudah kerap hal ini terjadi. Yakni pengalaman wisatawan yang merasa kena "getok harga" saat jajan di Malioboro.

Sekarang tentang pecel lele yang dianggap overprice karena setiap komponennya, mulai dari nasi, lele, dan lalapan dihargai cukup tinggi. Pro dan kontra bermunculan. Aspek yang diperdebatkan bukan hanya harganya yang Rp37.000, tapi juga sikap pembeli dan penjualnya.

Berbagai sudut pandang menjadi landasan argumentasi. Ada yang menganggap harga Rp37.000 tidak terlalu mahal dengan menimbang status dan gengsi Malioboro sebagai ikon wisata terbesar di Yogyakarta. Sedangkan sebagian orang menilai harga tersebut kurang wajar.

Ada yang mengkritik pembeli karena tidak memperhatikan harganya secara detail. Apalagi jika ia tak menanyakan dulu harganya sebelum memutuskan jajan. Jika sudah bertanya dan tidak cocok karena dianggap kemahalan, tinggalkan tempat tersebut.

Ada yang menganggap harga tersebut mestinya tidak terlalu dipermasalahkan jika memang sudah sebesar itu harga yang ditetapkan sejak awal oleh penjual. Pembeli tak bisa protes jika sudah menikmati pecel lelenya.

Yang jadi masalah ialah jika pembeli tidak mendapatkan informasi yang sebenarnya dari sang penjual ketika kejadian. Wajar jika pembeli merasa terjebak.

Kurang tepat menyalahkan pembeli jika ia tidak bertanya detail sebelum memesan. Bertanya harga memang perlu. Namun, apakah kita juga akan menanyakan atau memikirkan harga irisan timun dan bawang goreng jika memesan nasi goreng? Rasanya tidak lazim harga sepiring nasi goreng dihitung berdasarkan banyaknya potongan timun dan jumlah tebaran bawang goreng di atasnya.

Sama halnya harga pecel lele. Lazimnya di Yogyakarta harga pecel lele sudah termasuk lalapan dan sambal. Ada pula yang sudah termasuk nasi. Kecuali jika pembeli menambah porsi nasi dan lalapan.

Penjual memang boleh menentukan harga masing-masing komponen hidangannya. Tidak  terlalu masalah kalau dengan cara itu penjual ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun