Apa yang terlihat pada Minggu, 31 Mei 2020 ketika beberapa orang bergotong royong membongkar pos penjagaan masuk di sekitar tempat tinggal kami tampaknya jadi salah satu penanda awal tatanan kehidupan normal baru.Â
Anggapan tampaknya tak keliru karena hari-hari setelahnya beberapa portal yang semula terkunci kembali dibuka.
Spanduk-spanduk berisi himbauan dilarang melintas mulai dilucuti. Beberapa gang kini kembali "bersih" dan bisa dilalui seperti dulu. "Local lockdown" pun dilonggarkan.
Beberapa portal memang masih akan ditutup mulai pukul 22.00 sampai 06.00. Namun, tak ada lagi penjagaan oleh warga. Sedangkan wastafel portabel dan sabun cuci tangan tetap disediakan di mulut gang. Semua orang yang melintas diharapkan sadar untuk mencuci tangan tanpa harus disuruh dan diawasi lagi.
Sementara spanduk baru berwarna kuning mencolok berisi imbauan agar warga disiplin menggunakan masker dipasang. "Kawasan Wajib Pakai Masker, Sering Cuci Tangan Pakai Sabun", begitu isi spanduknya.
Apalagi setelah muncul klaster baru dari sebuah pusat grosir dan perbelanjaan besar di Sleman. Sejak saat itu kasus positif Covid-19 di DIY didominasi oleh transmisi lokal.
Maka pelonggaran "local lockdown" yang mulai dilakukan di sejumlah perkampungan di Sleman menyimpan dilema dan kekhawatiran yang tak bisa diabaikan.
Di satu sisi, penyebaran Covid-19 belum bisa dikendalikan sepenuhnya. Bahkan, DIY yang wilayahnya tidak terlalu luas, tapi mobilitas warganya sangat tinggi sebenarnya perlu lebih waspada dengan potensi transmisi lokal.
Di sisi yang lain tatanan kehidupan normal baru merupakan keniscayaan. Apalagi sejak Presiden Jokowi memberi sinyal kepada masyarakat Indonesia untuk bersiap memulai normal baru, banyak masyarakat yang menangkapnya sebagai restu pelonggaran.
Padahal, setelah kunjungan Presiden Jokowi ke stasiun MRT di Jakarta dan ke sebuah mal di Bekasi pada dua pekan lalu hingga saat ini belum jelas kapan dan seperti apa normal baru ala Indonesia akan dimulai. Protokol-protokol masih dalam penggodokan.
Sementara sejumlah daerah yang semula digadang-gadang menjadi pioner normal baru terkesan belum mantap untuk mengambil keputusan.
Ambil contoh pada hari ini, Kamis (4/6/2020). Waktu baru menunjukkan pukul delapan lewat beberapa menit. Sisa kesegaran pagi masih dapat dihirup di sepanjang Jalan Agro yang memagari sisi utara kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sebuah kedai kopi kesayangan anak muda sudah membuka kaca. Dua orang pemuda berkaus hitam duduk di meja dan kursi mungil yang ditata di depan kedai. Keduanya asik berbincang tanpa mengenakan masker. Hal semacam itu tak terlalu mengejutkan karena kedai ini memang biasanya sudah ramai sejak pagi hari.
Tak jauh dari kedai, pusat kuliner gudeg sudah membuka lebar tempat untuk bersantap. Beberapa utas tali dipasang memagari bagian depannya sehingga akses ke ruang makan diatur melalui satu pintu.
Salah satu pemilik tempat fotokopi dan jasa print yang saya datangi mengatakan kalau ia baru buka kembali pada Senin (1/6/2020). Itu pun ia sudah dihadapkan pada masalah pelik, yakni harus memperbaiki mesin foto kopi yang sempat rusak karena terlalu lama tak digunakan.
Ia harus merogok kocek, sementara pendapatannya sudah jauh berkurang semenjak kampus diliburkan pada pertengahan Maret.
Bahkan, di beberapa titik muncul beberapa penjual makanan dan minuman baru. Antara lain di dekat bunderan utara kampus Kehutanan UGM. Demikian pula di utara kampus Kedokteran Hewan muncul penjual masker kain warna-warni yang digantungkan pada sebilah kayu di pinggir jalan.
Geliat kehidupan normal, entah "new normal" atau "old normal", semakin tampak saat siang sampai malam. Pelan tapi pasti kini kawasan Jalan Kaliurang mulai meriah lagi.
Sepanjang itu pula terlihat bahwa masyarakat belum satu kata dalam merespon normal baru. Banyak yang sudah mematuhi protokol kesehatan dengan mengenakan masker. Namun, tidak sedikit pula yang tak mengenakannya.
Tanda bahwa normal baru masih akan menghadirkan tantangan besar dalam perang melawan pandemi di Indonesia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H