Desa Balung Kidul yang terletak di Kecamatan Balung, Kabupaten Jember merupakan desa dimana mayoritas penduduknya bekerja sebagai buruh tani atau buruh harian lepas. Namun, tidak sedikit masyarakat Desa Balung Kidul yang mencari nafkah melalui home industry atau industri rumah tangga.
Home industry atau industri rumah tangga merupakan kegiatan produksi pada skala rumahan atau kecil yang dilakukan untuk meraup sejumlah keuntungan. Home industry pada umumnya berbentuk suatu usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang diusahakan tanpa manajemen dan organisasi yang ketat.
Home industry di Desa Balung Kidul yang cukup sering ditemui diantaranya pengrajin batu bata, pengrajin genting, pengolahan dan penyimpanan hasil (gudang) pertanian, dan peternak ayam potong.
Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif 98 se-Kabupaten Jember yang terdiri dari Universitas dr. Soebandi, Universitas Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, dan Universitas Islam Jember menemukan adanya sinergisme antar pelaku industri rumah tangga sehingga membentuk hubungan mutualisme dan ekosistem less waste.
Secara sederhana less waste merupakan suatu pola aktivitas manusia yang membuang sedikit limbah ke ke landfill atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) melalui pendekatan pencegahan, pengolahan, hingga pemanfaatan.
Industri pengolahan dan penyimpanan produk pertanian yang ada di Desa Balung Kidul umumnya menghasilkan limbah gabah dan tongkol jagung karena sebagian komoditas yang diusakan adalah jagung dan padi.
Misalnya pada usaha pengolahan jagung dimana proses pemisahan tongkol dan bij jagung akan menghasilkan limbah tongkol jagung. Limbah tongkol jagung tersebut dijual kepada peternak atau pengrajin batu bata setempat dengan harga Rp 9.000/karung. Pada usaha pengolahan padi juga akan menghasilkan limbah berupa gabah yang dimanfaatkan oleh peternak ayam potong, pengrajin batu bata, hingga pengrajin genting.
Gabah pada usaha ayam boiler akan digunakan sebagai alas untuk memudahkan sanitasi kandang. Sementara limbah dari gabah yang telah digunakan sebagai alas akan dijual kembali untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik.