Mohon tunggu...
Wahyu Kurniawan
Wahyu Kurniawan Mohon Tunggu... Lainnya - Pencari Ilmu

Mahasiswa Administrasi Negara || Penulis || Muhibbin || Aktivis Dakwah

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Hari Guru dan Idealnya Menjadi Seorang Murid

25 November 2021   15:48 Diperbarui: 25 November 2021   17:46 971
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: Dokumen Pribadi || Oleh : Wahyu Kurniawan

Hari ini Kamis, 25 November 2021 merupakan hari Guru Nasional. Hari dimana seharusnya seorang murid melakukan muhasabah dan bertanya didalam dirinya sendiri apakah ia sudah memenuhi kriteria sebagai seorang murid yang ideal, sehingga peringatan Hari Guru tidak hanya sekedar menjadi rutinitas tahunan yang dilakukan tanpa ada nilai dan beban tanggung jawab untuk melakukan perbaikan diri sebagai seseorang yang sedang menuntut ilmu kepada seorang Guru. Hari Guru harus menjadi momentum dalam meningkatkan penghargaan dan penghormatan terhadap jasa-jasa Guru yang harus diimplementasikan dengan akhlak dan adab yang tidak hanya menjadi ceremonial sehari dua hari saja, melainkan seumur hidup.

Pada kesempatan kali ini saya akan menulis dari sudut pandang saya sebagai seorang murid dengan membahas mengenai bagaimana kriteria dan perwujudan dari seorang murid yang ideal, pembahasan ini berdasarkan pada persepektif Abu Al-Hasan Al-Mawardi yang merupakan seorang Ahli Fiqh dari Irak ia merupakan salah satu tokoh, pemikir dan peletak dasar keilmuan politik Islam. Pakar ilmu politik termasyhur di era Kekhalifahan Abbasiyah.

Murid yang ideal adalah ia yang mengedepankan nilai-nilai etika dalam berinteraksi dengan gurunya. Sikap dan perilakunya mencerminkan moralitas pelajar yang selalu menghormati hak-hak gurunya. 

Dengan adab lah guru dan murid dapat mencapai kesuksesannya masing-masing. Atas dasar ini, ada beberapa tolak ukur adab dan etika seorang murid terhadap guru, diantaranya :

1. Menghormati guru: mengambil hati dan merendahkan diri.

Ilustrasi
Ilustrasi

Dalam menempuh studinya, murid harus dapat mengambil hati gurunya dan bersikap rendah hati kepadanya. Upaya mengambil hati dan merendahkan diri jika diaplikasikan akan membawa keuntungan bagi murid, namun sebaliknya jika diabaikan akan membawa kerugian bagi murid sendiri. mengambil hati seorang guru akan memotivasi guru untuk menampakkan ilmunya yang tersimpan sehingga murid mendapat pemahaman yang maksimal, sementara sikap rendah hati akan memotivasi guru untuk selalu sabar yang memungkinkannya mentransfer ilmunya sebanyak mungkin kepada muridnya.

Seorang murid perlu menciptakan suasana hubungan yang baik selama berinteraksi dengan guru. Realisasi dari penciptaan relasi yang baik dengan guru adalah dengan mengimplementasikan sikap rendah hati (tawadhu’) pada guru dan berusaha menyenangkan hati guru. Sikap yang baik dalam belajar memiliki efek yang positif secara psikologis terhadap guru seperti munculnya sikap keterbukaan dan kesabaran dalam mengajar. Selain itu, sikap rendah hati dan sikap yang menyenangkan akan selalu menjaga kestabilan emosional guru dan hubungan harmonis dengan guru sehingga tercipta suasana kondusif dalam pembelajaran.

Dalam hal ini banyak hadis, perkataan sahabat, orang bijak, maupun penyair yang pada intinya menekankan agar murid selalu menghormati dan memuliakan gurunya, menghormati keutamaan ilmunya dan bersikap rendah hati terhadapnya. Sikap seperti ini tidak boleh diimplementasikan secara diskriminatif, guru yang populer dan tidak populer atau memiliki kedudukan atau tidak memiliki kedudukan harus diperlakukan setara, yakni sama-sama mendapat penghormatan. Seorang guru mempunyai hak untuk dimuliakan berdasarkan ilmu yang dimilikinya bukan karena jabatan atau kekayaannya.  Seorang guru harus diperlakukan dengan penuh adab seperti memperlakukan seorang raja

2. Meneladani Guru.

Ilustrasi
Ilustrasi

Guru adalah seorang teladan yang patut dicontoh. Karena itu perlu ditekankan agar murid meneladani guru dalam kehidupannya. Seorang murid harus mengikuti moralitas guru dan meniru setiap perilaku guru. 

Moralitas dan perilaku guru itu harus ditradisikan oleh murid agar ia berkembang dengan tradisi yang baik dan menjauhi hal-hal yang tidak sesuai. Konsep di atas menunjukkan bahwa dalam relasi guru dan murid harus ada interaksi edukatif yang positif di antara keduanya. 

Di sini kita harus melihat urgensi keteladanan kepribadian guru yang mampu memberi pengaruh kuat agar murid termotivasi untuk  mentradisikan moralitas dan tindakan guru yang positif dalam dirinya. Dengan mentradisikan akhlak dan tindakan guru yang positif murid akan tumbuh berkembang bersama tradisi yang positif itu.

Namun ini bukan berarti bahwa kita harus mengidealisasikan plagiasi kepribadian secara total tanpa kritik. Sebab, sebagaimana akan terlihat nanti, sikap moderasi dan sikap kritis terhadap guru juga merupakan salah satu sikap yang harus dimiliki oleh murid dalam memandang figur gurunya.

3. Tidak Meremehkan Guru.

Ilustrasi
Ilustrasi

Salah satu adab yang berkaitan erat dengan penghormatan murid kepada guru adalah mengapresiasi ilmu atau informasi ilmiah yang dikomunikasikan guru kepada murid. 

Bentuk implementasi dari adab ini adalah tidak mendemontrasikan ilmu di hadapan guru dengan maksud melecehkannya. Murid dinilai tidak etis jika membentangkan penjelasan ilmu secara lebar kepada gurunya walaupun itu dilakukan dengan cara yang lembut. 

Termasuk tindakan tidak etis lainnya adalah murid berani mempresentasikan dalil-dalil walaupun ia telah menjalin hubungan persahabatan dengannya. 

Selain itu, murid juga tidak etis mengekspresikan rasa cukup dan tidak perlu terhadap informasi ilmiah gurunya. Sikap seperti ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap nikmat ilmu yang diberikan guru dan merupakan bentuk pelecehan terhadap hak-hak guru.

Keberanian sebagian murid dalam mendemontrasikan ilmu di depan guru disebabkan adanya murid yang cerdas yang termotivasi untuk menyalahkan atau menentang gurunya dengan maksud meremehkan dan mengalahkan argumennya. Ini merupakan bentuk musibah bagi guru karena ia di perlakuan secara tidak etis. 

Dalam situasi ini guru diperlakukan secara terbalik karena sebagai orang yang berpengetahuan ia malah diperlakukan seperti orang bodoh oleh orang yang diajarinya dan direndahkan oleh orang-orang yang mendatanginya. 

Ada Salah satu isi syair yang dikutip oleh Al Mawardi yang menyatakan bahwa di antara tanda murid yang bodoh adalah adanya dugaan dalam diri murid bahwa ia adalah seorang ahli (pakar) yang lebih tahu dari gurunya. Persepsi murid seperti ini mendorong murid meremehkan guru. Padahal, guru memiliki hak untuk dihormati dan diperlakukan secara proporsional bahkan perlakuan terhadap guru seharusnya melebihi perlakuan etis pada orang tua.

4. Memiliki sikap moderasi.

Ilustrasi
Ilustrasi

Setelah membahas mengenai penekanan terhadap pentingnya murid meneladani, menghormati, dan tidak menggurui guru dalam relasi antara guru dan murid, kemudian kita harus mengimbanginya dengan sikap moderasi murid terhadap guru. 

Sikap moderasi ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan dan sikap yang proporsional kepada guru sehingga murid tidak terjebak dalam sikap fanatisme ekstrem pada pemikiran gurunya. Dalam praktik pendidikan Islam, tradisi penghormatan kepada guru merupakan suatu yang lumrah dalam etika belajar.

Namun hal ini bukan berarti bahwa murid mutlak bertaklid dan tidak kritis terhadap gurunya sendiri. Sikap inilah yang ditanamkan kepada para penuntut ilmu. 

Murid yang memiliki pengetahuan tentang kebenaran tidak seharusnya menerima begitu saja hal-hal yang samar dari gurunya. Murid jangan sampai bersikap tidak hati-hati akibat adanya sikap taklid terhadap apa yang dipelajari dari gurunya. Munculnya sikap taklid pada murid salah satunya disebabkan oleh sikap berlebihan murid terhadap gurunya. 

Misalnya, murid menganggap perkataan gurunya adalah dalil walaupun itu bukan merupakan dalil dan beranggapan bahwa keyakinan gurunya merupakan argumentasi walaupun itu bukan argumen. Fanatisme murid pada gurunya membuat mereka menyelesaikan suatu masalah berdasarkan apa yang telah mereka terima dari gurunya.

Penulis : Wahyu Kurniawan (Mahasiswa Administrasi Negara)

UIN Suska Riau

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun