Pengelolaan Limbah di Sunggal: Wujud Nyata Dukungan terhadap SDGs ke-12
limbah, dan promosi praktik yang ramah lingkungan. Di daerah Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, perhatian terhadap pengelolaan limbah mulai menjadi fokus, mengingat isu ini berhubungan langsung dengan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.
"Pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab menjadi inti dari tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12. Tujuan ini menekankan pentingnya efisiensi penggunaan sumber daya, penguranganMengintip kehidupan di Sunggal, ada cerita menarik tentang bagaimana warga berinteraksi dengan limbah dan bagaimana pengelolaan limbah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Berbagai tantangan dan peluang muncul, memberikan gambaran bagaimana daerah ini mendukung SDGs ke-12 secara nyata.
Kesadaran Warga terhadap Pengelolaan Limbah
Dalam wawancara dengan beberapa warga, muncul perspektif beragam mengenai pengelolaan limbah di lingkungan mereka. Riza Sarmawati, seorang ibu rumah tangga, mengungkapkan bahwa sejauh ini limbah di lingkungannya dikelola dengan baik. "Kalau soal limbah, Alhamdulillah, tidak ada dampak buruk yang terasa. Sampai sekarang, lingkungan kami masih bersih dan aman," ujarnya.
Pendapat serupa diungkapkan oleh Nenek Nafsia, seorang warga lanjut usia yang tinggal di daerah yang sama. Ia mengapresiasi upaya pengelolaan limbah yang sudah dilakukan. "Selama ini, semuanya baik-baik saja. Kami di sini tidak terganggu oleh limbah," katanya.
Namun, Ari, seorang pemuda yang sehari-hari bekerja serabutan, mencatat bahwa sempat ada insiden kecil pencemaran di salah satu sungai dekat lingkungannya. "Ada sedikit masalah di sungai, tapi pihak terkait sudah tanggap. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik," ungkapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pengelolaan limbah di Sunggal telah berjalan cukup baik, masih ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam mencegah potensi pencemaran.
Dampak Positif Pengelolaan Limbah terhadap Kehidupan Warga
Pengelolaan limbah yang baik tidak hanya menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap kehidupan warga. Salah satu bentuk manfaat yang dirasakan adalah terbukanya peluang ekonomi. Beberapa komunitas di Sunggal, misalnya, mulai mengembangkan program bank sampah yang memungkinkan warga menukar sampah plastik dengan kebutuhan pokok atau uang tunai.
Selain itu, limbah organik yang diolah menjadi pupuk kompos mulai menarik perhatian warga yang memiliki lahan pertanian atau kebun kecil. Mereka memanfaatkan pupuk ini untuk menanam tanaman sayur dan buah, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. "Kami di sini sudah mulai belajar memanfaatkan limbah rumah tangga, seperti sisa makanan, untuk dijadikan pupuk. Lumayan membantu kebun kecil saya," kata salah satu warga.