(1) Halaman RumahÂ
Suatu hari di halaman rumah, di pagi hari yang memiliki gerimis sederhana tak sampai menjadi rinai, sedang bunga-bunga bermekaran.Â
Pohon-pohon menari mengikuti arah angin, menambah irama musik obrolan burung-burung yang bercerita entah tentang apa.Â
Aku menyapa mereka dan berkata, "Selamat pagi dunia, inilah aku, yang tengah singgah di halaman rumahku sendiri,"Â
Alam seolah menjawabnya, dalam bahasa yang ia punya.Â
Dan gemerisik semakin menjadi, saat hujan telah menjadi rinai, halaman rumah basah olehnya.Â
(2) Bunga BermekaranÂ
Hari-hari penuh cinta, meski ia bersembunyi, tapi tak menyurutkan keindahannya.Â
Apa yang ia berikan, selalu dengan ketulusan, menyadurkan bagian terbaiknya, meski kadang perih mengiris.Â
Bunga-bunga mungil, meski kadang tak tampak mata dari kejauhan, tetap akan memberikan semburat warna syahdu tersaput mendung sendu.Â
Lalu, apa yang tak patut disyukuri? Jika keseimbangan antara aku dan mereka, memberikan hari-hari penuh cinta?Â
(3) Ia yang BahagiaÂ
Ada yang mengintai di balik rimbun dedaunan. Sikap siaga, seolah takut menggangu.Â
Biarkan saja! Ia berhak akan keseimbangan alam. Jangan kau halau ia dengan kegusaranmu. Bila perlu, ajaklah ia menari, dalam irama cha cha cha yang riang.Â
Lalu, cepat! Tangkap ia dengan layar ponselmu. Klik! Simpan ia selagi kau mau, mengisi harimu, mengagumi indah warna dan keseimbangannya.Â
Ia bahagia, sebab bersempat menikmati rantai hidup alam di sekitarmu, tanpa ganggu yang meragu.Â
Tahukah? Kau akan bahagia karena kebahagiaannya.Â
Bukankah sesuatu menyenangkan, jika ia bahagia karena kebaikanmu, dan kau bahagia sebab tercipta kebahagiaannya itu membuatmu bahagia?Â
Semarang, 15 Februari 2020.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI