Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis - Penulis #Peraih Best In Fiction Kompasiana Award 2018#

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Meja Makan adalah Daerah Otoritas Bunda Saat Sahur

18 Mei 2018   08:09 Diperbarui: 18 Mei 2018   08:27 693
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pukul 02.00 WIB. Alarm berbunyi dari sebuah handphone. Dengan masih terkantuk, Bunda bangun dan mempersiapkan diri. Menuju kamar mandi. Mencuci muka. Berwudlu dan bersiap salat dua rakaat. "Ini masih dinihari, mak! Kepagian kamu bangun. Noh, sana tidur lagi aja." serunya dalam hati pada dirinya sendiri. Lalu dijawabnya sendiri, "Biarin. Memang sengaja!" dan diakhiri dengan nyengir. Penuh kemenangan.

Hari ini, dini hari yang masih terlalu dingin, Bunda harus mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan sahur. Memasak. Menghangatkan makanan, membuat minuman dan menatanya di atas meja makan. Semua adalah daerah kekuasaannya. Ia memiliki otoritas penuh. Ia memperoleh mandat untuk berbuat semau Bunda yang ingin di lakukan. Bunda adalah Ratu di daerah ini.

Nasi cukup. Lauk untuk empat orang lebih dari cukup. Sayur, tadi Bunda memasak oseng sayur sawi putih. Sengaja dibikin tidak pedas, karena untuk santap sahur. Tidak seperti biasanya. Sebisa mungkin santapan buat sahur adalah makanan yang tak bersantan dan pedas. Minuman ada. 

Sedikit buah juga ada. Anak-anak suka. Kadang-kadang Kakak dan Adik suka nambah makan. Maklum, masa pertumbuhan, masih butuh asupan makanan yang cukup. Asal tak berlebihan, it's okay.

Setelah selesai seluruh pekerjaan itu, ada satu hal yang Bunda suka. Membangunkan temannya yang lain. Ayah, kakak dan adik. Dengan suara merdunya, ia akan berteriak. Tetapi jangan heran, jika teriakannya akan butuh pengulangan paling tidak dua atau tiga kali. Karena meskipun berteriak, suaranya tetap lembut mendayu. Hahaha.... harusnya memakai loudspeaker dong ya.

"Bangun yuuuk. Sahuuuur....!"

"Hem...."

"Bangun dong!"

"Iya..."

Akhirnya mereka terbangun, ketika ada pengumuman dari masjid dekat rumah, yang menghimbau agar para warga segera bersahur, karena pukul sudah menunjukkan jam 03.00 WIB. Bukan oleh suara Bunda. Nah, bangun. Sambil mengucek kedua mata, mereka menuju kamar mandi dan antre.

Saatnya Santap Sahur!

Saat sahur bersama adalah hal yang paling menyenangkan. Kebiasaan yang jarang terjadi, jika tidak di bulan Ramadan. Ada kesan dan nuansa tersendiri. Sebuah rasa yang tak bisa diungkapkan, tetapi rasa itu ada. Sebuah rasa yang menerbitkan kerinduan, jika waktu telah berlalu. Rasa yang ingin selalu terulang. Sebuah rasa itu adalah: rindu ramadan.

Setelah selesai bersantap sahur, Bunda membersihkan meja makan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan harus bersih. Jika ada yang bersisa, akan ia simpan dalam lemari. Sambil dibantu kakak, Bunda mencuci piring. Tuntas sudah tugas di area meja makan dan dapur. Daerah kekuasaan Bunda, Otoritas milik Bunda.

Sambil menunggu imsak, layar kaca televisi menyala. Tetapi tampaknya layar itu hanya berkedip dan tak berganti channel, meski sedang iklan. O, ternyata semua memiliki kesibukan beda, yang lebih menarik perhatian mereka. Layar handphone. Zaman mileneal.

Tetapi meskipun begitu, ada teman Bunda yang mengajak ngobrol sembari menunggu imsak dan azan subuh. Ayah, dengan setia menemani Bunda. Bercerita tentang hal lucu saat masih mudanya dulu waktu masih ngekos.

"Bun, dulu pas ayah ngekos, jika saat sahur kayak gini, kompak. Saling membangunkan satu sama lain. Menggedor pintu kamar kos, jika ada teman yang belum bangun. Nah, tapi kadang ayah sama teman yang lain juga suka usil," katanya. Kemudian Ayah ngakak. Loh, belum cerita kok sudah ngakak duluan. Apa sih ceritanya?

"Apaan tuh, Yah?" tanya Bunda penasaran.

"Jadi ya bun, teman kos yang belum bangun, padahal sudah digedor pintunya, maka di depan pintu kamar dikasih barang apa aja. Misalnya, sapu, gagang pel, lalu daun-daun pisang, karena dulu ada pisang di dekat asrama kos. Nah, lalu pintu digedor keras, biar bangun. Saat ia membuka pintu, pasti kaget. Kejatuhan sapu sama sampah daun pisang." kata Ayah tertawa terbahak-bahak mengenang masa lalu. Bunda biasanya juga ikut tertawa. Tetapi tak selebar tawa Ayah. Dalam hatinya mengatakan, "Ayah dan temannya usil."

Lalu Bundapun ikut-ikutan cerita, tentang masa lalu saat sahur pada saat itu. Tapi, kayaknya cerita Bunda biasa saja deh. Lempeng-lempeng saja. Nggak seru seperti cerita Ayah. Buktinya Ayah hanya senyum, nggak ngakak seperti tadi. Hehehe... Dan, tiba-tiba tatapan Ayah berbeda. Waduh. Ihiks... "Yah, mau imsak nih. Bunda ambilin air putih ya." kata Bunda. Ayah mengangguk.

"Imsaaak...." seruan dari masjid dekat rumah berkumandang.

"Sudah niat?"

"Sudaah...." jawab mereka koor.

Sesaat kemudian suara azan Subuh menggema.

Ayah, Bunda, Kakak dan Adik bersiap salat subuh.

Maka puasa hari ini dimulai. Dengan niat yang ikhlas dan ingin mendapat ridla dari Allah SWT. Semoga. Aamiin....


Semarang, 18 Mei 2018.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun