Mohon tunggu...
Vriska Shay Putri
Vriska Shay Putri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

art enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Seni

Evaluasi Penampilan Tari Topeng Bapang dalam Acara Temu Alumni Universitas Gajayana Malang

17 Desember 2024   10:16 Diperbarui: 17 Desember 2024   10:26 24
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto Tari Bapang (sumber: penulis)

Pada Hari Sabtu (14/12/2024) Universitas Gajayana menggelar acara Temu Alumni dan pentas Seni dalam rangka Musyawarah Besar ke-4. Acara ini dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan dan mempererat dan tali persaudaraan antar alumni AMPA, STE, dan Universitas Gajayana Malang. Acara ini dilaksanakan di Aula Universitas Gajayana dan menampilkan beberapa hiburan yang menarik seperti tari tradisional dan musik elekton. Dalam acara ini juga menampilkan beberapa produk-produk yang merupakan hasil usaha para alumni.

Salah satu penampilan tari tradisional yang menarik dalam acara ini adalah Tari Topeng Bapang. Tari ini merupakan bagian dari Tari Topeng Malang yang memiliki karakteristik gagah, pemarah, ugal-ugalan dan kasar yang ditunjukkan dengaan gerakan tangan yang dibentang dan kaki yang dibuka lebar.

Tari Topeng Bapang yang dibawakan oleh 3 anak perempuan dengan menggunakan kostum berwarna merah dan berpayet emas. Properti yang digunakan yakni topeng dengan hidung yang panjang dan berwarna merah dan sampur yang juga berwarna merah. Hiasan kepala menggunakan jamang atau mahkota khas malangan dengan koncer pada sisi kiri dan kanan. Gongseng juga digunakan dalam tari ini untuk menambah kesan gagah.

Terdapat beberapa kekurangan dalam penampilan Tari Bapang dalam acara ini, seperti terdapat beberapa gerakan yang kurang kompak nampak pada kaki kanan yang menghentak tidak seirama sehingga bunyi gongseng tidak beraturan dan kurangnya penguasaan panggung yang menyebabkan penari kebingungan posisi mereka sebenarnya. Beberapa penari tampak saling melihat satu sama lain untuk mencari kepastian posisi, yang mengurangi kesan profesionalitas dari penampilan tersebut. Kegagapan ini kemungkinan disebabkan oleh kurangnya latihan atau persiapan teknis yang kurang matang. Dari segala kekurangan tersebut, mereka patut diapresiasi karena percaya diri dalam menampilkan tarian tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya khas Kota Malang.

 

Kritik Seni ini ditulis oleh Vriska Shay Putri, Mahasiswa S1 Pendidikan Seni Tari dan Musik angkatan 2023, Departemen Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Seni Selengkapnya
Lihat Seni Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun