Mohon tunggu...
Syinchan Journal
Syinchan Journal Mohon Tunggu... Freelancer - Seorang Pemikir bebas yang punya kendali atas pikirannya

Begitu kau memahami kekuatan kata katamu, kamu tidak akan mengatakan apapun begitu saja. Begitu kau memahami kekuatan pikiranmu, kamu tidak akan memikirkan apapun begitu saja. Ketahuilah Nilaimu

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Ngonten Anabul, Apakah Kita Mencari Kebahagiaan atau Koneksi?

18 Oktober 2024   11:35 Diperbarui: 18 Oktober 2024   11:49 102
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anabul (Freepik.com/vwalakte)

Di era digital seperti sekarang ini, fenomena ngonten anabul---yang merujuk pada konten yang berfokus pada hewan peliharaan, terutama kucing dan anjing---semakin marak. Dari video lucu yang menghibur hingga foto-foto menggemaskan yang memenuhi feed media sosial, kita tidak bisa menolak pesona yang ditawarkan oleh para hewan ini. Namun, pertanyaannya adalah, apakah kita ngonten anabul untuk mencari kebahagiaan, atau justru untuk mencari koneksi dengan orang lain?

Mengapa Kita Suka Ngonten Anabul

Ngonten anabul seolah menjadi sebuah pelarian dari rutinitas sehari-hari. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research Center pada tahun 2022, sekitar 54% responden menyatakan bahwa mereka menggunakan media sosial untuk mencari hiburan. Konten anabul menjadi salah satu pilihan utama, terutama di kalangan Gen Z dan milenial yang lebih sering terpapar pada tren digital.

Hewan peliharaan sering kali menghadirkan kebahagiaan yang sederhana. Mereka tidak menuntut, tidak menghakimi, dan selalu hadir dengan kejujuran yang tulus. Menonton video lucu tentang kucing yang berusaha menangkap laser atau anjing yang berlari mengejar bola bisa menjadi cara yang efektif untuk meredakan stres. Dalam hal ini, konten anabul menjadi obat bagi jiwa yang penat.

Koneksi Melalui Konten Anabul

Namun, ngonten anabul juga menyiratkan aspek sosial yang tidak bisa diabaikan. Dalam dunia yang semakin terhubung, banyak orang merasa kesepian meskipun mereka memiliki akses ke berbagai platform sosial. Koneksi dengan orang lain menjadi penting. Di sinilah konten anabul berperan sebagai jembatan. Melalui postingan tentang hewan peliharaan, kita bisa berbagi pengalaman, memberi dukungan, dan bahkan menjalin persahabatan baru.

Dari hasil analisis data media sosial, terlihat bahwa konten anabul sering kali menjadi topik hangat yang menarik perhatian banyak orang. Hashtag seperti #CatsofInstagram dan #DogsOfTikTok menciptakan komunitas online di mana orang dapat berbagi cerita, tips, dan foto-foto anabul mereka. Koneksi yang terbentuk di antara para pecinta hewan ini sangat berarti, terutama bagi mereka yang mungkin merasa terasing di dunia nyata.

Kebahagiaan vs Koneksi

Sementara banyak orang menggunakan konten anabul sebagai sumber kebahagiaan, kita tidak bisa mengabaikan bahwa banyak juga yang mencari koneksi. Menurut studi yang dipublikasikan di Journal of Computer-Mediated Communication, interaksi positif di media sosial dapat meningkatkan kesehatan mental. Dengan berbagi konten anabul, kita tidak hanya menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri tetapi juga membantu orang lain menemukan kebahagiaan tersebut.

Namun, ada juga sisi gelap dari fenomena ini. Dalam usaha untuk mendapatkan lebih banyak likes dan followers, beberapa orang mungkin berlebihan dalam mengedit foto atau video hewan peliharaan mereka, menjadikan tampilan anabul tidak realistis. Hal ini bisa menimbulkan tekanan untuk selalu tampil sempurna, baik bagi pemilik maupun penonton. Ini membuat kita bertanya, apakah tujuan dari ngonten ini masih murni untuk kebahagiaan dan koneksi, atau sudah terdistorsi oleh ekspektasi sosial yang tidak realistis?

Menciptakan Ruang Positif

Penting untuk kita menciptakan ruang yang positif dalam dunia ngonten anabul. Mengedukasi diri sendiri dan orang lain tentang cara merawat hewan peliharaan dengan baik serta mempromosikan adopsi hewan peliharaan dari tempat penampungan bisa menjadi langkah kecil yang besar dampaknya. Di era di mana konten viral dapat menyebar dalam hitungan detik, mari kita gunakan platform ini untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat dan menggugah hati.

Kita juga harus ingat bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri. Ngonten anabul bisa menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan diri, tetapi jangan biarkan diri kita terjebak dalam angka likes atau followers. Cobalah untuk menikmati momen yang ada dan berbagi pengalaman kita dengan tulus.


Statistik Menarik

Untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang fenomena ini, mari kita lihat beberapa statistik yang menarik:

1. 73% pengguna Instagram mengikuti akun hewan peliharaan, dan lebih dari 60% dari mereka mengaku merasa lebih bahagia saat melihat konten tersebut.

2. 80% pengguna media sosial berusia 18 hingga 29 tahun mengatakan bahwa mereka lebih mungkin berinteraksi dengan postingan yang berhubungan dengan hewan peliharaan.

3. Menurut data dari Statista, pengeluaran untuk hewan peliharaan di Indonesia diperkirakan mencapai 12 triliun rupiah pada tahun 2024, menunjukkan peningkatan ketertarikan terhadap perawatan hewan peliharaan.

Kesimpulan

Ngonten anabul dapat menjadi jembatan untuk menemukan kebahagiaan dan membangun koneksi dengan orang lain. Kita seharusnya mampu memanfaatkan fenomena ini untuk menciptakan ruang yang positif, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Di saat kita menikmati konten hewan peliharaan yang menggemaskan, mari kita ingat untuk tetap autentik dan tidak terjebak dalam ekspektasi sosial yang bisa membebani.

Di akhir hari, baik kebahagiaan maupun koneksi sama-sama penting. Dengan memahami motivasi di balik ngonten anabul, kita bisa lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial untuk kesejahteraan mental kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Jadi, apakah kita ngonten anabul untuk kebahagiaan atau koneksi? Mungkin, jawabannya adalah keduanya.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun