Desa Wonokerso, Kabupaten Sragen, 2 Agustus 2024 — Dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah perikanan, tim KKN UNS mengadakan kegiatan pembuatan pupuk organik cair berbahan dasar air limbah lele di Desa Wonokerso. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan teknologi ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan masyarakat setempat untuk meningkatkan sektor pertanian dan ekonomi lokal, sekaligus mengurangi dampak negatif pencemaran dari limbah budidaya ikan lele.
Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Air Kolam Lele
Proses pembuatan pupuk organik cair dimulai dengan memanfaatkan air limbah budidaya lele yang mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman. Tim KKN UNS melakukan pembuatan pupuk organik cair menggunakan dua metode, yaitu dengan wadah tong drum 120 liter dan botol 1,5 liter.
Untuk pembuatan pupuk menggunakan wadah tong drum 120 liter, sebanyak 100 liter air limbah lele dicampur dengan bakteri fermentasi aerobik, nutrisi khusus bakteri, dan karbon aktif kelapa sawit. Campuran ini kemudian difermentasi selama 14 hari. Hasilnya adalah pupuk organik cair yang memiliki kandungan hara makro yang dapat langsung digunakan tanpa perlu dicampur dengan air bersih untuk tanaman berukuran kecil maupun besar.
Sedangkan untuk pembuatan pupuk organik cair dalam botol 1,5 liter, sebanyak 1 liter air limbah lele dicampurkan dengan 4 tutup botol EM4 (Effective Microorganisms - 4) dan 200 ml gula merah sebagai nutrisi untuk bakteri tersebut. Campuran ini difermentasi selama beberapa hari dan hasilnya kemudian dapat digunakan dengan mencampurkannya dengan air bersih dalam perbandingan yang berbeda, yaitu 1:10 untuk tanaman kecil dan 1:2 untuk tanaman besar.
Manfaat Pupuk Organik Cair bagi Pertanian dan Ekonomi Lokal
Pupuk organik cair yang dihasilkan dari limbah air kolam lele memiliki banyak manfaat, baik untuk tanaman maupun ekonomi masyarakat. Selain meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman, pupuk organik cair ini juga merupakan alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pupuk kimia sintetis yang harganya mahal dan dapat merusak ekosistem dalam jangka panjang.
Dengan menggunakan pupuk organik cair ini, petani di Desa Wonokerso dapat meningkatkan hasil pertanian mereka tanpa harus bergantung pada pupuk kimia. Selain itu, produk pupuk organik cair ini memiliki potensi untuk dijual secara komersial kepada petani lain dengan harga yang lebih terjangkau, yang tentunya dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat.
Harapan dan Prospek Ke Depan
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Wonokerso dapat lebih sadar akan pentingnya pengelolaan limbah untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan. Dengan mengolah limbah air kolam lele menjadi pupuk organik cair, masyarakat tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui penjualan pupuk organik cair yang dihasilkan.
Diharapkan, program ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain yang memiliki potensi serupa, serta membuka peluang bagi pengembangan lebih lanjut dalam sektor pertanian dan peternakan yang ramah lingkungan di seluruh wilayah Indonesia.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H