Sebagian orang mengatakan bahwa buku, khususnya novel, kurang laku karena terrgerus dengan kehadiran media digital atau yang biasa disebut e-book. Orang lebih memilih untuk mengunduh baik yang gratisan maupun yang berbayar. Alasannya karena gratis atau harganya lebih murah dibandingkan dengan versi cetak.
Tetapi jika sering menyambangi toko buku, selalu banyak buku baru bermunculan dari penulis-penulis baru pula. Ternyata gairah orang untuk menulis novel sepertinya tidak pernah surut. Seperti halnya banyak Kompasianer yang juga mampu menghasilkan novel yang bagus-bagus.
Ada fenomena yang cukup menarik untuk disimak dengah kehadiran novel-novel masa kini yaitu pemilihan judul dengan menggunakan bahasa Inggris. Apakah berlebihan jika saya mengatakan satu atau dua dari lima novel Indonesia saat ini judulnya menggunakan bahasa Inggris?
Jika masih menyangsikan, silakan datang ke toko buku terdekat dan buktikan sendiri. Hebatnya lagi, novel-novel tersebut banyak diminati pembaca alias best seller. Salah satu contohnya adalah novel-novel karya Christian Simamora. Sedangkan Novel yang sepertinya tidak 'tertarik' untuk menggunakan judul berbahasa Inggris sepertinya novel dengan cerita berlatar religi.
Apakah salah menggunakan bahasa Inggris sebagai judul novel Indonesia? Rasanya tidak ada aturan perundangan yang melarangnya. Pertanyaannya adalah apakah bahasa Indonesia tidak cukup bagus untuk dijadikan judul sebuah novel? Atau ada alasan lain?
Mengapa banyak penulis menggunakan bahasa Inggris sebagai judul novel mereka? Terus terang saya belum pernah menanyakan langsung kepada mereka. Hanya berani menebak-nebak saja, mereka menggunakan bahasa Inggris karena alasan-alasan sebagai berikut:
- Mereka kesulitan mencari padanan judul tersebut dalam bahasa Indonesia. Walau terkesan agak aneh juga karena mereka mampu menghasilkan sebuah novel, bukan cerpen lho, dalam bahasa Indonesia. Apakah “Spring in London” beda makna dengan “Musim Semi di London”?
- Bahasa Inggris lebih punya greget. Ambil contoh novel karya Yoana Dianika yaitu The Awakening. (mungkin) lebih ‘ngekick’ daripada diberi judul “Kebangkitan”. Tapi coba bandingkan dengan judul novel Bilur-bilur Penyesalan (Mira W) rasanya tidak kalah ‘menyengat’. Atau ambil sebuah judul novel dari Maria A Sardjono Cinta yang Tak Pernah Pupus rasanya sebuah judul yang indah dan dalam.
- Bahasa Inggris dianggap lebih punya nilai jual. Apa iya, bagaimana dengan Laskar Pelangi? Ini sekedar strategi dagang. novel dengan judul bahasa Inggris dianggap lebih memikat terutama jika pangsa pasarnya remaja. Mungkin ada pemikiran bahwa novel dengan judul bahasa Indonesia mewakili novel-novel kelas berat. Padahal karya-karya Maria A Sardjono rasanya tidak ada yang berat-berat.
- Persoalan genre, novel-novel Indonesia dengan judul bahasa Inggris dianggap mewakili jenis novel yaitu Metropop. Novel-novel percintaan, tanpa konflik mendalam,dengan bahasa ringan dan mudah dimengerti. novel yang tidak perlu mikir dengan imaginasi dalam yang habis dalam 1 jam saja.
- Sekedar strategi dagang. novel dengan judul bahasa Inggris dianggap lebih memikat terutama jika pangsa pasarnya remaja. Mungkin ada pemikiran bahwa novel dengan judul bahasa Indonesia mewakili novel-novel kelas berat. Padahal karya-karya Maria A Sardjono rasanya tidak ada yang berat-berat amat.
Jaman berganti, judul novel Indonesia berubah banyak. Sebagai bagian dari produk lama alias jadul saya mungkin terkaget-kaget dengan fenomena tersebut. Terus terang senang, semakin hari semakin banyak penulis baru bermunculan. Semakin banyak pilihan bagi para pecinta buku khususnya novel.
Walau begitu semoga penulis-penulis lama tidak ikut-ikutan latah menggunakan bahasa Inggris sebagai judul novel mereka. Tidak bisa dibayangkan jika seorang Arswendo, Mira W, Ahmad Tohari, atau Sindhunata menggunakan bahasa Inggris untuk karya mereka. Karena bagaimana pun bahasa Indonesia tidak kalah kaya dengan bahasa Inggris.
Sebuah pertanyaan lain sempat muncul, apakah di Inggris atau Amerika sana, penulis-penulis novel, misalnya yang bergenre metropop juga menggunakan judul dengan bahasa asing, bahasa Perancis atau Spanyol misalnya? Seperti yang menggejala di sini. ada yang bisa menjawab?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H