Mohon tunggu...
Venusgazer EP
Venusgazer EP Mohon Tunggu... Freelancer - Just an ordinary freelancer

#You'llNeverWalkAlone |Twitter @venusgazer |email venusgazer@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Lapangan Merdeka Medan: Ketika Warga Tak Lagi 'Merdeka' Menggunakan Ruang Publiknya

30 September 2015   15:52 Diperbarui: 30 September 2015   16:01 475
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Seorang bapak usia diatas 50-an menunjukan rasa kekecewaan, ia berdiri menatap sekeliling Lapangan Merdeka sambil menggelengkan kepala. Dilihat dari penampilannya bapak itu sepertinya hendak berolah-raga bersama istri yang berdiri tidak jauh darinya. Setelah berbincang singkat keduanya berjalan meninggalkan area Lapangan Merdeka kembali menuju mobil yang terparkir di dekat pintu Lapangan Merdeka bagian utara. Mereka telah mengurungkan niat untuk memanfaatkan Lapangan Merdeka.

[caption caption="Lapangan Merdeka, Medan (dok.pri)"][/caption]

Kondisi Lapangan Merdeka sore itu memang jauh dari rasa nyaman untuk dipergunakan berolah-raga. Banyak kendaraan roda empat terparkir di lintasan lari. Di area rumput berdiri panggung besar. Belum lagi stand-stand kecil yang memenuhi hampir tiga-perempat luas Lapangan Merdeka. Sepertinya akan ada event di Lapangan Merdeka pada malam harinya.

Lapangan Merdeka adalah ruang terbuka publik yang paling luas yang ada di Kota Medan. Lapangan ini selalu ramai dimanfaatkan oleh warga yang ingin berolah-raga atau sekedar berekreasi bersama keluarga. Melepaskan diri dari kesumpekan kehidupan kota. Inilah beranda bersama bagi masyarakat urban Medan. Sebuah oase kecil ditengah laju peradaban kota yang lebih menitikberatkan pada simbol-simbol peradaban modern seperti bangunan tinggi, apartemen, sampai pusat perbelanjaan.

Pemerintah Kota Medan memang sudah melakukan revitalisasi Lapangan Merdeka. Terlihat beberapa alat-alat yang diperuntukan bagi pengunjung untuk berolah-raga. Di sisi lain dibuat arena khusus bermain skateboard yang sederhana dan aktivitas outdoor lainnya. Berbicara revitalisasi Lapangan Merdeka , tentu tidak bisa dipisahkan dengan kehadiran Merdeka Walk yang berada di area barat kompleks Lapangan Merdeka. Merdeka Walk adalah ruang publik yang diprivatisasi. Area ini di isi oleh kafe-kafe dan restoran dimana warga kota bisa hangout dengan santai sambil menikmati suasana malam Kota Medan.

[caption caption="Merdeka Walk (dok.pri)"]

[/caption]

[caption caption="Lapangan Merdeka dilihat dari Merdeka Walk (dok.pri)"]

[/caption]
Kehadiran Merdeka Walk tentu memberi nilai positif jika dilihat dari kacamata ekonomi. Pemerintah kota tentu mendapat pemasukan disamping penyerapan tenaga kerja. Namun sayang, ruang publik yang ada di Merdeka Walk menjadi segmented. Hanya mereka yang berduit yang bisa nongkrong di situ. Harga makanan dan minuman di sana terkenal mahal. Bayangkan harga segelas es susu coklat saja 21 ribu rupiah!

Jadi ketika Merdeka Walk sudah diprivatisasi haruskah Lapangan Merdeka mengalami hal serupa? Masyarakat mengerti bahwa kewenangan pengelolaan sebuah ruang publik seperti Lapangan Merdeka ada pada pemerintah. Tetapi hendaknya pemerintah kota harus tetap mengedepankan kebutuhan masyarakat akan ruang publik yang nyaman. Pemerintah kota harus ingat bahwa pemanfaatan ruang terbuka publik adalah hak rakyat yang harus dipenuhi sesuai dengan amanat undang-undang.

Pemanfaatan ruang publik tidak boleh mengarah pada komersialisasi. Ruang publik bukan barang dagangan karena nanti hanya mereka yang mempunyai modal saja yang akan memanfaatkan ruang publik tersebut. Maka dibutuhkan kebijakan yang jelas dan transparan dari pemerintah Kota Medan dalam pengelolaan Lapangan Merdeka agar tidak terjadi konflik. Jadi memang sungguh pemandangan yang kurang elok jika dalam sebuah ruang publik kendaraan-kendaraan tidak parkir pada tempatnya. belum masalah polusi udara dari asap dan debunya. Sedangkan dari sisi keamanan tentu saja membahayakan mereka yang berada di lintasan lari.

[caption caption="Mobil parkir di dalam area Lapangan Merdeka"]

[/caption]

[caption caption="Lapak Penjualan makanan di dalam area Lapangan Merdeka (dok.pri)"]

[/caption]

Pedagang-pedagang makanan dan minuman yang berada di pinggir lapangan hendaknya lebih ditertibkan. Keberadaan mereka jelas mengganggu pengunjung yang ingin menggunakan peralatan fitness. Masalah lain yang tidak dapat dihindari adalah masalah kebersihan. Kurangnya kesadaran dari penjual maupun pembeli membuat kotor ruang publik ini. Penertiban pedagang kecil bukan berarti melarang mereka berjualan. Akan tetapi pemerintah harus menyediakan tempat yang representatif bagi mereka. Revitalisasi ruang publik juga dimaksudkan sebagai katalisator atau menggerakan sektor ekonomi kecil. Jika pemerintah kota belum bisa menyediakan sarana dan prasarana di sekitar Lapangan Merdeka maka terpaksa dilakukan pelarangan.

Lapangan Merdeka harus bisa diakses oleh semua warga kota tanpa terkecuali secara gratis. Memang masuk area Lapangan Merdeka baik dari pintu utara maupun selatan semuanya gratis. Namun parkir kendaraan tetap harus bayar itu pun tanpa karcis. Sudah selayaknya pemerintah kota meniadakan segala bentuk pungutan di Lapangan Merdeka. Bukankah warga datang ke beranda mereka sendiri?

Ruang publik yang merupakan jantung Kota Medan ini belum ramah terhadap penyandang disabilitas. Pengguna kursi roda misalnya kurang mendapat ruang untuk bergerak dengan nyaman kecuali di lintasan lari yang berarti harus siap beradu dengan kendaran bermotor. Bagi tunanetra sendiri ada bagian-bagian penutup parit yang lubangnya agak besar sehingga menimbulkan resiko tersendiri.

Masih banyak kekurangan yang ada pada Lapangan Merdeka Medan. PR yang masih bisa diperbaiki jika pemerintah kotanya memang ingin memberikan yang terbaik bagi warganya. Mereka dapat belajar dari kota lain yang berhasil menciptakan ruang publik yang 'ramah' dan modern, dengan tetap berpegang pada budaya setempat.

Lapangan Merdeka Medan harus dikembalikan kepada esensi dari sebuah ruang publik yaitu ruang publik untuk dan milik semua warga kota. Kemajuan peradaban modern tidak boleh mengikis kearifan lokal yang hadir pada sebuah ruang publik. Sejatinya ruang publik adalah tempat dimana setiap warga bisa memerdekakan diri. Bukan sebaliknya.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun