Samar-samar aku mendengar suara yang begitu familiar memanggil namaku. Ya, itu suara Penny, Ibu Angkatku. Aku tak kuasa menahan kesedihan, ternyata Tuhan masih mengizinkanku bertemu Penny sebelum aku benar-benar pergi. Penny melihat kalung yang terpasang di leherku untuk memastikan. Tertulis namaku dan alamat rumah Penny di bandulannya. Penny mengelusku lembut, seakan mengerti aku sedang sangat kesakitan.
“Molly, maafkan aku! Seharusnya aku tidak lalai dan membiarkan jendela rumah terbuka seharian. Molly…. Hiks” Penny tidak bisa menahan air matanya.
Bahkan ia tak peduli dengan kemacetan yang bertambah parah atas kejadian ini. Dalam hati sebenarnya aku mengutuk perbuatanku sendiri, ini bukan salah Penny. Akupun menjawab Penny, “Meooooong” yang berarti
‘Tak apa Penny, ini bukan salahmu. Tolong jangan menangis’
Entah mengapa Penny selalu mengerti apa yang ku katakana, ia berhenti menangis, begitu juga dengan nafasku. Aku melihat cahaya begitu terang seperti menjemputku. Seketika rasa sakit ku hilang, namun aku bisa melihat Penny perlahan membungkus tubuhku dengan syal yang ia kenakan. Selamat tinggal Penny, selamat tinggal untuk selamanya. Terima kasih telah merawatku sejak aku masih kucing kecil.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H