Mohon tunggu...
Ummu el Hakim
Ummu el Hakim Mohon Tunggu... Wiraswasta - Hanya seorang emak biasa

Penyuka alam dan rangkaian kata

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pilihan Sekolah bagi Si Bolang, Meraih Dunia di Antara Serpihan Alam

14 Juli 2019   19:38 Diperbarui: 14 Juli 2019   19:41 126
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : Dokumen Sekolah Alam Ghifari

Musim pendaftaran siswa baru sudah nyaris ditutup. Para guru pun sudah bersiap tuk menyambut. Murid baru telah mengatur laju tuk melangkah. Namun aku sempat terputar oleh rasa gundah. Bagai berada pada poros tengah. Entah, akan maju atau kumundurkan langkah. Ah sudahlah. Kalau memang putraku belum mau sekolah, tahun depan sajalah. Pikirku kemudian. Toh usianya masih bisa dijangkau, belum terlambat sangat pun tuk menjangkau.

Begitulah putra keduaku yang kini menginjak tahun kelima. Teman seusianya sudah bersiap dari mula. Semangat menapak di bangku sekolah pun tak terkira rasa. Hingga orang tua mereka sedari awal pendaftaran dibuka, tlah menghampiri sekolah yang disuka. Sedang aku? Masih santai menunggu, tak lakukan apa pun jua.

"Tak mau sekolah!". Begitulah jawaban putra keduaku setiap kali ada yang bertanya. Entah, dia memang tipe anak yang tak suka dengan pola yang tertata. Berpetualang di alam bebas sangat diminatinya. Begitu luas tanpa batas. Juga bercanda dengan para hewan adalah hobi yang begitu menyenangkan.

Si Bolang yang suka bercanda dengan hewan. Sumber : Dokumen Pribadi
Si Bolang yang suka bercanda dengan hewan. Sumber : Dokumen Pribadi
Aku tak bisa memaksa. Sembari kutunggu apa yang menjadi kemauannya. Yang terpenting aturan-Nya masih tetap dijaga. Itu yang utama.

Suatu ketika, ada yang menghampiriku, dan berkata demikian, "Coba Mba carikan sekolah yang bersentuhan dengan alam, barangkali dia mau mencoba."

Oh, ya! Benar. Sekolah alam! Tepat! Barangkali inilah pilihan kuat. Patut dicoba, siapa tau dia berminat dan mau bersekolah disana. Putraku suka sekali berpetualang juga penyayang binatang. Hanya saja aku belum tau lokasi sekolah alam yang tak jauh dengan rumah tinggal kami. Sekolah model ini begitu jarang ditemui. Kalau pun ada, jaraknya terlalu jauh dari rumah, kasihan jikalau anak terlalu lelah.

Semisal ada pilihan dekat, kenapa tidak? Sisa waktu bisa digunakan tuk rehat. Tak tega hati jikalau anak terlalu capek sangat.

Alhamdulillah, seorang teman memberi informasi. Akhirnya satu sekolah alam berhasil kutemui. Sekolah tersebut belum lama berdiri. Begitu dekat dari rumah, tak sampai setengah jam pun kutempuh dengan kendaraan berkecepatan sedang.

Ghifari. Sebuah sekolah alam sederhana, berada di dalam area kebun nan luas. Berteman pepohonan rindang. Ada kolam ikan dengan bentuk memanjang. Menyambut para calon siswa yang datang. Di depan sekolah terbentang persawahan dan mengalir sungai nan jernih pun bersih.

Sekolah alam berteman pepohonan rindang. Sumber : Dokumen Pribadi
Sekolah alam berteman pepohonan rindang. Sumber : Dokumen Pribadi
Meski belum lama sekolah ini berdiri. Namun sudah terlihat kematangan dari sang pendiri. Bermula dari salah seorang profesor universitas kenamaan di kota Jogjakarta, menjadi pencetus berdirinya sekolah bertajuk alam ini. Dimana kegiatan sehari hari dipenuhi dengan bercengkerama dengan alam sekitar. Seperti menanam pohon, mencari ikan, bermain di sungai, serta mengolah tanaman menjadi bahan makanan.

Calistung atau membaca, menulis, dan berhitung bukan menjadi prioritas utama. Namun lebih pada mensyukuri nikmat-Nya dengan mengaji dan berdoa. Begitu sederhana namun penuh makna. Pembelajaran dari alam sekitar dirasa lebih memberi kesan mendalam. Hal inilah yang akan diingat anak hingga akhir hayat. Sederhana yang memikat.

Tak kusangka tetiba disana, putraku langsung berlari menyambut sebuah angkong, lalu dibuatnya menjadi kereta untuk mengangkut batu bata. Ketika mendapati cangkul kecil langsung dia gunakan untuk menggali tanah sebagai lahan menanam. Pun menyapa siput kecil yang ada di pinggir kolam. Dia begitu cekatan menyapa alam di depan mata. Aku bahagia sebab inilah hal yang dia suka. Berbau alam serta bercengkerama laiknya sahabat karib nan setia.

Para guru yang telah puluhan tahun berkecimpung mengasuh anak di dunia pendidikan. Pun bersiap menyambutnya di depan pelataran. Rupanya si bolangku telah menemukan tempat yang nyaman. Tuk raih dunia diantara serpihan alam.

Alam menjadi bagian yang begitu menyenangkan. Kesederhanaan alam menjadi daya tarik yang mudah diulik dalam pikiran bawah sadar anak. Bukan sesuatu yang harus ditolak. Namun justru inilah pijakan yang memiliki daya pikat. Meski menjadi hal yang tak banyak ditemui. Sapa sederhana alamlah yang begitu menarik hati.

Kesederhanaan alam menjadi daya tarik yang mudah diulik dalam pikiran bawah sadar anak. Sumber : Dokumen Pribadi
Kesederhanaan alam menjadi daya tarik yang mudah diulik dalam pikiran bawah sadar anak. Sumber : Dokumen Pribadi
Belajar berpikir sederhana untuk menjadi penyayang yang istimewa. Begitulah yang kurasa. Tak mengapa jikalau anak tak memilih sekolah pada umumnya. Seandainya memang keinginannya tertambat pada sebuah pilihan yang tak biasa.

Begitu pun aku sebagai orang tua tak bisa memaksakan. Sebab pendidikan bukan sebuah pemaksaan. Justru keberhasilan pendidikan bermula dari hati penuh keikhlasan. Jikalau memang telah tertambat minat, maka dukungan adalah hal yang sebaiknya dilaksanakan. Lalu lanjutkan dengan fokus pada perhatian.

Harapan setiap orang tua tentulah sama. Agar anak anak bisa bertumbuh menjadi generasi yang berguna. Meski langkah yang dipijak berbeda, tak mengapa. Biarlah mereka yang menentukan langkah sesuai keinginan yang mereka cipta. Orang tua hanya sebagai fasilitator dan pendamping agar langkah semakin tertata dan terarah. Namun pilihan tetaplah anak yang menentukan.

Anak anak bagai kertas putih yang belum tergores noda. Begitu polos dalam menghadapi roda dunia. Pun mereka memiliki keinginan yang berbeda beda. Jika tak sama dengan yang biasa, jangan menyerah. Kiranya dunia kan mengurai kisah. Solusi pun kan datang meski harus mengulur lelah. Percayalah anak anak telah menggenggam bingkai yang begitu indah.

Untuk para orang tua dimana pun berada. Jikalau memiliki putra yang tak biasa sepertiku, bersabarlah. Mereka hanya ingin melihat dunia dengan kacamatanya. Kacamata yang memiliki warna berbeda dengan orang dewasa. Namun justru perbedaan itulah yang membuat kita seharusnya bahagia. Karena mereka sejatinya anak anak dengan hati mulia.

Dan untuk para bolang kecil, raihlah dunia diantara serpihan alam dengan kesederhanaan berpikirmu. Genggamlah dengan tangan lugumu. Lalu jadilah penyayang yang istimewa di mata-Nya. Maka semesta kan tersenyum bangga. Sebab kaulah penikmat dunia yang sesungguhnya.

Niek~
Jogjakarta, 14 Juli 2019

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun