Mohon tunggu...
Ukhtyan Muhibbah Firdaus
Ukhtyan Muhibbah Firdaus Mohon Tunggu... -

Penulis | Muslimah Fotografer | Aktivis Syariah & Khilafah | Hidup untuk menggapai Keridhoan Allah SWT

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Bunga Syahdu

1 Oktober 2013   21:41 Diperbarui: 24 Juni 2015   07:08 107
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

“DEEGGGG!!!”, Salsa kaget. “Astagfirullah”, batinnya.
Rasanya semakin tak karuan, sesak dan tak tertahan. Segeralah ia bersihkan tangannya dengan air kran. Merasa masih menguatkan diri, Salsa tetap melangkahkan kaki menuju kajian di depan teras mushola.

Waktu cepat berlalu, hampir ashar pertanda kajian segera selesai. Kak Firda pun menutup dengan salam dan persiapan salat ashar.
“Kak Firda, Salsa salat dirumah saja kak”, izin Salsa
“Oh iya dik, hati-hati dijalan ya” Sembari bersalaman dan memeluk Salsa.

Jarak Mushola dengan rumah Salsa berdekatan, sekitar 10 menit ia berjalan dan sampai di rumah mungilnya. “Assalamu’alaikum Mak?” tak ada jawab dari dalam. Salsa mulai curiga, bergegas Salsa membuka pintu ke dalam kamar Emak. “Mak!!!!” teriaknya, tak juga ditemui Emak.
Hatinya semakin gusar. Ia lari ke dapur, tak juga ditemukannya. Beranjak ia lari menuju kamar mandi

“Braaaakkk” dia dorong pintu kamar mandi, didapatinya Emak sudah tergeletak tak bernyawa.
“Emaaaaaaaaaaakkkkkkkkk….Maak bangun Mak”, tetesan air mata Salsa pun menderas mengalir tak terbendung. “Tolong..tolooonngg” teriak Salsa.

Kabarnya Emak memang sudah lama mengidap TBC, pengobatannya tertunda karena Emak menguatirkan mahalnya biaya berobat rumah sakit. Kondisi Salsa telah Yatim sejak SMP dan ibunya telah tiada, kini tinggal sebatang kara. Dalam duka dan tetangga yang sudah mulai datang berkerumun.


Ia masuk kamar, ditemukannya secarik kertas di meja. Emak sempat menuliskan pesan “Nak, tetaplah istiqomah berada di barisan dakwah Khilafah. Hingga maut menjemput kita atau kita mati dalam rangka memperjuangkannya”. Diambil pula setangkai Tulip Biru bunga kesukaannya yang terselip rapi dibalik kertas. Salsa tahu ini tulip biru dari hutan yang biasa Emak bawakan saat pulang mencari kayu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun