Mohon tunggu...
Tubagus Lawalata
Tubagus Lawalata Mohon Tunggu... Lainnya - Pedagang Air Keliling

Rakyat yang Memperhatikan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tanya: Kenapa Ramah Lingkungan Bisa Dimulai dari Hal Sederhana?

13 Mei 2017   20:39 Diperbarui: 13 Mei 2017   20:48 204
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Jadi tidak ada tenggat waktu untuk walk-in interview ini ya Pak?" kamu kembali bertanya.

"Tidak Pak" jawabnya, kembali singkat. 

"Kalau begitu siapakah nama HRD yang bertanggung jawab" tanyamu sembari muncul dua orang berpakaian putih bercelana hitam keluar dari ruangan yang ada di belakang Pak Cecep tadi. 

"Kalau HRD, namanya Pak Apri tetapi yang mengurus walk-in interviw ini namanya Bu Ita" jawabnya.

"Baiklah kalau begitu Pak, terimakasih untuk waktunya" ujarmu sembari pamit dari hadapannya, kembali menuju tangga. 

Demikian kejadian tadi pagi, di sebuah bengkel Yamaha di kota Bogor yang membuka lowongan kerja. Asumsi yang kamu bawa mengenai lamaran tanpa kertas ternyata tidak berlaku di perusahaan ini. Masih dengan pikiran tadi, harapan untuk bisa melamar tanpa menggunakan kertas di kota Bogor ini masih belum bisa menjadi realisasi. Kalau perlu, mungkin kamu masih perlu membuat surat lamaran dengan menggunakan tulisan tangan, seperti jaman dahulu kala. Jelas pasti ada maksud untuk hal tersebut. Dari tulisan tangan, bagian HRD tentu akan dapat melihat karakter seseoran yang melamar tersebut. Kurang lebih itu sepengetahuanmu. Dan jika memang stereotip melamar masih perlu menggunakan kertas seperti yang diminta oleh pihak HRD Yamaha tadi pagi, tentu pelamar tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti apa yang diminta oleh perusahaan. Posisi negosiasi yang sudah menjadi 'budaya' di kalangan perusahaan yang belum beralih ke pola pikir "ramah lingkungan" akan tetap demikian. 

Bagi sebagian orang, tentu akan berpikir bahwa "kenapa tidak membuat lamaran sebagaimana mestinya, lengkap dengan foto kopi ijazah dan berkas-berkas yang diperlukan lainnya" ketika kamu melamar. Mudah saja, pikiran yang mendasari asumsi ramah lingkungan tadi yang menjadi solusinya. Apakah asumsi tersebut hanya sebatas utopia saja? Apakah menjadi "ramah lingkungan" sedemikian sulitnya sehingga memulai dari hal-hal sederhana pun terasa menjadi sesuatu yang besar? Apakah hal ini tidak menjadi perusahaan-perusahaan besar dan hanya menjadi sebuah pencitraan ketika mereka menyatakan sudah "ramah lingkungan"?

Tanya kenapa..

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun